Lebih Pantas Gelar Event Internasional, Bali Tidak Perlu Sebagai Tuan Rumah PON

KBRN, Badung:  Sejumlah pihak tertentu mengatakan, Bali saatnya menjadi tuan rumah PON mengingat prasarana dan sarana di daerah ini cukup untuk itu. Di samping itu prestasi atlet Bali cukup memadai, karena mampu menduduki posisi lima besar di PON Papua 2021.

Menanggapi hal itu Kamis, (21/10/2021), Ketua Umum KONI Badung Made Nariana memiliki pendapat lain.

Nariana mengatakan, dari segi geografis, Bali memang sangat sentral jika menjadi tuan rumah PON. Semua kabupaten/kota siap sebagai pelaksana jika dipertandingkan  60 cabang olahraga. Tinggal menambah beberapa sarana/prasarana tertentu saja.

Tetapi, banyak daerah lain menolak Bali sebagai tuan rumah, karena Bali dianggap sudah terkenal, tidak kurang suatu apa pun.

“Berikan kesempatan daerah di luar Bali ikut maju seperti Bali. Sebab dengan PON,  pemerintah mempercepat pembangunan  daerah tersebut”,  begitu ucapan peserta lain,  jika diadakan bidding PON oleh KONI Pusat.

Seperti ketika saat bidding (penawaran tuan rumah) PON di Jakarta 4 tahun lalu di Jakarta.   Bali dikalahkan Sumut/Aceh untuk menjadi tuan rumah PON 2024 (mungkin akan diundur tahun 2025). Pertimbangannya bukan karena Sumut/Aceh lebih siap, tetapi memberikan kesempatan daerah tersebut berkembang lebih maju sehingga sebanding dengan kemajuan Bali.

Bidding yang awalnya untuk menunjukkan siapa yang paling siap sebagai tuan rumah berdasarkan sejumlah persyaratan tertentu, akhirnya  hanya sekadar formalitas semata. Pelaksanaan bidding yang diawali berbagai kegiatan seperti  calon tuan rumah menyambangi semua provinsi untuk menawarkan diri supaya dipilih, lanjut survei pengurus KONI Pusat  ke daerah calon tuan rumah, seminar  dan berbagai pertemuan,  menjadi mubazir, dengan menghabiskan banyak dana.  Bayangkan saat itu Bali mengirim tiga team ke seluruh Indonesia. Mengundang mereka datang ke Bali melihat sarana olahraga di Bali. Biaya yang dikeluarkan cukup besar, belum lagi ada pelayanan khusus dan sebagainya.

Selain itu team KONI Pusat juga memverifikasi penawaran Bali. Mereka juga dilayani khusus selama di Bali, sehingga siap “menjual” Bali kepada calon pemilih dalam bidding PON. Hasilnya apa? Gagal total, dana terlanjur habis banyak.

Sebab calon tuan rumah membayar dana pendaftaran dan uang jaminan ke KONI Pusat cukup besar. Uang jaminan memang dikembalikan, jika tidak terpilih, namun uang pendaftaran hangus.

“Saya melihat bidding tuan rumah PON hanya sekadar formalitas, sebab hakikatnya tuan rumah sudah digadang gadang sebelum acara bidding dilakukan. Acara bidding sangat boros dan tidak efektif, sebab akhirnya yang menentukan siapa jadi tuan rumah PON tergantung pemerintah pusat, Menpora atau Presiden,” kata Nariana yang  mengamati jalannya bidding PON tersebut.

Nariana mengatakan, lebih relevan Bali merebut event-event olahraga yang bersifat internasional, sehingga dapat dikembangkan program pemerintah memajukan “sport tourism”. Program ini akan lebih bermanfaat bagi Bali guna kemajuan ekonomi masyarakat.

Ia menjelaskan Bali,  sudah pengalaman melakukan olahraga bertaraf internasional, seperti Kejuaraan Dunia Menembak, Kejuaraan Silat, Berselancar, Sepakbola internasional, Tenis Lapangan, Cricket dll. Semua sukses dan atlet berbagai negara merasa senang berada di Bali. Malahan atlet dunia itu melakukan kegiatan sosial buat rakyat Bali.

“Kalau tidak salah,  Bali pernah ditawarkan sebagai bagian Tour Tenis Lapangan Dunia di tahun 90an. Namun Bali tidak siap karena lapangan belum memenuhi standar internasional.  Venues bertaraf internasonal itu harus ada di satu lokasi, minimal  4 lapangan dengan persyaratan ada  kafe dengan menu sejumlah negara, toilet, tempat ganti pakaian, press room, telekomunikasi canggih, ruang panitia,  dan berbagai persyaratan teknis lainnya bertaraf  internasional, di satu lokasi. Kalau mau, Bali pasti mampulah.

“Nama Bali sendiri sangat menarik, tetapi lapangannya yang belum memenuhi syarat untuk kegiatan olahraga internasional”, kata Nariana yang mantan Ketua PWI Bali itu.

Menurutnya hal inilah yang perlu dipersiapkan Bali, sehingga tidak rebutan menjadi tuan rumah PON. Lebih baik menawarkan diri menjadi tuan rumah kegiatan ‘’International Sport” untuk kepentingan “Sport Tourism”, pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00