Menjerit, Puluhan Korban Tuntut Kejelasan Unit The Anaya Village

KBRN, Kuta : Sebanyak 44 korban menuntut kejelasan unit yang mereka beli dari I Ketut Oka Paramartha dan PT. Anaya Graha Abadi. Oka Paramartha merupakan pihak pertama selaku pemilik lahan yang bekerjasama dengan PT. Anaya Graha Abadi untuk mengembangkan properti The Anaya Village Pecatu, Bali.

 

Puluhan korban ini hanya sebagian kecil dari 109 orang pembeli unit di The Anaya Village Pecatu. Mereka seyogyanya menerima unit yang dimaksud pada penghujung tahun 2019.

 

Namun ke-44 korban yang tergabung dalam Paguyuban Siok Cinta Damai tersebut sampai saat ini belum menerima realisasi dari Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) yang sebelumnya dibuat.

 

Kuasa Hukum Paguyuban Siok Cinta Damai, Rahmad Ramadhan Mahfoed menjelaskan, PPJB itu ditandatangani para korban dengan Oka Paramartha. Belakangan diketahui, sertifikat tanah seluas 61.200 meter2 yang rencananya dibangun The Anaya Village Pecatu telah diagunkan kesalah satu bank nasional sebelum proses jual beli.

 

Ini artinya, proses pemecahan sertifikat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) tidak akan bisa dilakukan. Atas kondisi itu, para korban menuntut tanggung jawab dari pihak pertama dalam hal ini Oka Paramartha.

 

"Pada intinya dari buyer (pembeli), itu berharap kepada pemilik tanah, dalam hal ini Pak I Ketut Oka Paramatha agar bisa menepati janjinya, yaitu apabila sampai akhir tahun 2019 bulan Desember itu belum bisa terbangun unit The Anaya Village, maka Pak I Ketut Oka Paramartha harus mengembalikan uang buyer 100 persen. Tapi nampaknya sampai hari ini belum ada realisasi yang diterima oleh korban Anaya tersebut," katanya kepada wartawan di Kuta, Minggu (19/1/2020).

 

"Justru beliau (Oka Paramartha) menghindar selama ini. Karena upaya-upaya damai, upaya-upaya mediasi sudah kita lakukan, dengan somasi, dengan mendatangi ke rumahnya, bahkan kami konfirmasi langsung kepada Polda Bali," lanjutnya.

 

Rahmad mengemukakan, kerugian yang timbul akibat kasus ini mencapai Rp55 miliar. Sedangkan kerugian yang diderita anggota Paguyuban Siok Cinta Damai menyentuh angka Rp14,5 miliar. Ia mengakui, telah melayangkan laporan kasus ini ke Polda Bali.

 

"Sudah kami laporkan beliau ke Polda Bali. Kami berharap dengan laporan ini beliau bisa merespon nantinya untuk melakukan upaya penyelesaian yang terbaik dengan para korban," ujarnya didampingi Ketua Paguyuban Siok Cinta Damai, Tjandrawati Prayitno, dan salah seorang pembeli bernama Hengky Dalimarta.

 

Terkait mudahnya pembeli percaya, mengingat proses pengagunan sertifikat muncul sebelum adanya PPJB unit The Anaya Village Pecatu, Rahmad menyebut, hal itu disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah pemilik lahan dianggap sebagai orang terpandang dan berpengaruh di Kota Denpasar.

 

"Yang pertama nama besar Pak I Ketut Oka Paramartha. Karena beliau adalah seorang tokoh, seorang pengusaha, dan seorang figur publik, informasinya di Denpasar. Yang kedua juga harga unitnya cukup bagus dan miring, serta lokasinya sangat premium dan mahal di Pecatu itu," ungkap Rahmad seraya mengatakan pemilik lahan tidak pernah membeber sertifikat yang menjadi objek PPJB.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00