Yuk, Belajar Trading Cerdas Tanpa Boncos

Yuk, Belajar Trading Cerdas Tanpa Boncos. (Istimewa)

KBRN, Denpasar : Perdagangan berjangka komoditi (PBK) mencatatkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan di tengah pandemi, pertumbuhan pasar PBK di Tanah Air sangat menggembirakan. 

Jika dilihat dari neraca bisnis Jakarta Future Exchange (JFX), nilai transaksi multilateral dan bilateral sepanjang tahun 2020 mencapai 9,5 juta lot. 

Angka tersebut menjadi rekor tertinggi yang dicatatkan PT. Bursa Berjangka Jakarta dalam 10 tahun terakhir. 

Kondisi ini secara tidak langsung membuktikan, minat investor yang semakin meningkat untuk menanamkan uangnya di perdagangan berjangka komoditi. 

Salah satu alasan ialah, investor yang mengalami stagnasi di bidang usaha konvensional akibat pandemi Covid-19, mulai mencoba peruntungan baru di PBK. 

Wajar, karena PBK atau lebih dikenal dunia trading menawarkan keuntungan (profit) menggiurkan. 

Karena dengan Rp286 juta (nilai tukar Rp14.300 per $1), investor sudah mengantongi modal 20 lot. Modal tersebut menjadi 'senjata' bagi investor untuk mengembangkan uangnya. 

Modal itu bukannya tidak mungkin akan berkembang 10% hingga 3.000% per tahun atau bahkan dalam satu bulan. 

Meski demikian, banyak hal perlu menjadi pertimbangan sebelum memutuskan berkecimpung di perdagangan berjangka komoditi. Salah satunya mempelajari potensi boncos (rugi). 

Perlu diketahui, sektor ini tergolong sangat mudah mendatangkan keuntungan, akan tetapi juga memiliki risiko yang sangat tinggi (high risk high return). 

Lantas apa yang perlu diperhatikan untuk meraup 'cuan' tanpa harus boncos di sektor PBK?

Direktur Utama PT. Bursa Berjangka Jakarta Stephanus Paulus Lumintang. (KBRN)

Direktur Utama PT. Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang menyampaikan cara jitu untuk menghindari kerugian ketika melakukan perdagangan berjangka komoditi. 

"Kita selalu mengajarkan trader untuk memiliki perencanaan, tepatnya planning value. Intinya kita harus disiplin," ungkapnya dalam kegiatan bertajuk 'Literasi Pengenalan Peluang dan Risiko Perdagangan Berjangka Komoditi' di Kantor Solid Gold Berjangka (SGB) Bali, Sabtu (27/2/2021). 

Stephanus Paulus Lumintang mengatakan, setiap trader wajib memiliki manajemen keuangan yang baik. Setiap open position, trader idealnya menggunakan instrumen stop loss. Tujuannya adalah untuk mengunci kerugian sesuai perencanaan manajemen keuangan. 

Sebaliknya, trader juga harus menentukan batasan keuntungan melalui instrumen take profit. Hal ini dinilai mampu mencegah ketagihan profit yang berakibat pada munculnya ketamakan di diri masing-masing trader.

"Apakah kita kunci berapa persen, kalau sudah mencapai keuntungan sekian, kita likuidasi, ataupun kerugian sekian, kita likuidasi. Agar kita termanage, dan mencegah terjadinya magin call," tegasnya.

"Margin call inilah salah satu petaka yang menyebabkan orang berasumsi kalau tertipu atau ditipu. Padahal itu semua karena market," sambungnya. 

JFX melalui 80 anggotanya di seluruh Indonesia, dipastikan akan selalu membimbing para nasabah. Tujuannya adalah untuk meminimalisasi kerugian besar. 

"Perusahaan pialang biasanya mempunyai tingkat analisa. Tapi ini bukan sebagai sebuah patokan, hanya sebagai sebuah arahan untuk (investor) mengambil keputusan. Sifatnya membantu. Bukan pialang yang mengambil keputusan. Karena semuanya itu dikembalikan kepada para investor," katanya. 

Ia menyebut, kerugian besar para trader atau investor selama ini disebabkan oleh dua hal, yakni ketidaktahuan dan ketamakan. 

"Biasanya itu paling penting adalah perencanaan trading. Perencanaan trading dan disiplin. Ini kuncinya, jangan tamak," tukasnya. 

Stephanus Paulus Lumintang tak memungkiri, ketamakan itu muncul akibat tingginya potensi keuntungan yang ditawarkan dari dunia trading. 

Walau demikian, potensi kerugian juga terbuka lebar, ketika seorang investor atau trader tidak memiliki manajemen keuangan, tingkat emosional yang labil, dan kurang disiplin. 

"Karena di industri kita, jangan heran, pernah terjadi di tahun 2017, ada salah satu nasabah di satu daerah, dia bisa profit Rp300 miliar, dan itu jarang. Tahun 2020 yang lalu sekitar bulan November, itu pernah terjadi juga, ada satu nasabah dari tinggal $1.000, profit $120.000. Jadi itu adalah sebuah kemungkinan-kemungkinan seperti itu sangat mungkin terjadi," bebernya.

"Tetapi ada juga yang rugi Rp20 miliar, sampai habis. Kita jangan ngomong yang cantik-cantik semua ya. Tapi yang jelek-jelek kita ungkapkan. Kenapa? Kuncinya ini adalah tidak disiplin," lanjutnya. 

Pimpinan Cabang SGB Bali Peter Susanto. (KBRN)

Pimpinan Cabang SGB Bali, Peter Susanto pada kesempatan yang sama mengakui, selalu memberikan pendampingan dan bimbingan para nasabah. 

"Yang kami lakukan secara teknis, kita kan memberikan pembimbingan. Itu setiap saat. Jadi pembimbingan ini dilakukan oleh para wakil pialang yang sudah mengantongi sertifikasi dari Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi)," sebutnya.

"Pembimbingan mulai dari analisa market, terus informasi harga. Tetapi semua transaksi kan dilakukan oleh user id dan password yang diterima oleh nasabah. Jadi nasabah semuanya yang melakukan transaksi, kita melakukan pembimbingan setiap saat. Jadi mereka butuh rencana seperti apa, maunya bagaimana, kita pun juga akan lakukan. Termasuk margin call kita ajarkan semuanya," imbuhnya. 

Ia tak memungkiri, kebanyakan kasus di lapangan adalah para nasabah selalu mengaku paham ketika meraup keuntungan.

Sedangkan saat rugi, nasabah disebut selalu berteriak ditipu oleh perusahaan. Bahkan ketika menderita kerugian, nasabah seakan-akan tidak paham atas semua bimbingan yang telah dilakukan masing-masing wakil pialan. 

"Jadi secara teknisnya, itu yang sering terjadi di lapangan. Makanya kita selalu memberikan edukasi kepada seluruh nasabah," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00