Pengamat: Ekonomi Bali Mencari Ekuilibrium Baru

Ekonomi Bali Mencari Ekuilibrium Baru. (Istimewa)

KBRN, Denpasar : Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa dan Bali telah memasuki pekan kedua. Ketakutan penurunan aktivitas ekonomi selama PPKM tampaknya tidak terbukti. 

Hal itu lantaran normalnya kegiatan masyarakat saat PPKM dilaksanakan di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar, dan Klungkung. 

Hanya saja memang, sejumlah lokasi seperti pusat perbelanjaan, dan restoran harus tutup lebih awal, yaitu Pukul 21.00 WITA. Namun kebijakan itu tidak terlalu mempengaruhi kuantitas transaksi. 

Ketua DPD Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Bali, Anak Agung Ngurah Agung Agra Putra mengakui, PPKM yang berlaku sejak 11 Januari 2021 hingga 25 Januari 2021 tidak memberikan dampak signifikan. 

"Karena untuk peak hournya di retail sendiri kan itu rata-rata dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Jadi rata-rata omzet kita itu 30 sampai 40 persen itu direntang waktu tersebut," katanya kepada RRI di Denpasar, Selasa (19/1/2021). 

Sementara Pengamat ekonomi, Prof. Gede Sri Darma sejak awal meyakini, PPKM tidak akan berimbas terhadap sektor ekuin Pulau Dewata. Sektor ekuin (ekonomi, keuangan, dan industri) Bali disebut telah mencari ekuilibrium. Titik keseimbangan baru itu terbentuk akibat pandemi Covid-19

"Mereka yang selama ini bergerak di sektor pariwisata, mereka sudah beralih mencari titik ekuilibrium, titik keseimbangan baru. Dan sudah siap menghadapi tatanan kehidupan baru. Maka sektor-sektor selain pariwisata mereka geluti. Inilah yang saya maksud perubahan struktur ekonomi baru ini mesti kita galakkan. Agar tidak menyimpan telur dalam keranjang," ujarnya. 

"Selama ini kan telurnya hanya disimpan di keranjang pariwisata ya. Sehingga terjadi pandemi Covid-19, semua telur itu berisiko pecah. Jadi ketika sekarang telurnya dipisah-pisahkan dalam keranjang berbeda, masyarakat Bali saya yakin akan mencari bentuk sendiri, agar ekonomi mereka tetap cerah selamanya," imbuhnya. 

Ditengah upaya menuju titik keseimbangan baru, Sri Darma menyebut, perekonomian masyarakat Bali sudah semakin membaik. Indikatornya adalah mulai meningkatnya daya beli, jika dibandingkan awal pandemi Covid-19 di bulan Maret dan April 2020. 

Meski demikian, secara global perekonomian Bali belum menunjukkan perubahan berarti. Kondisi itu mengacu pada komparasi pertumbuhan di triwulan I-2020. Ia berharap, ekuilibrium yang terbentuk dapat membuat ekonomi Bali shifting ke arah lebih baik. 

"Tetapi untuk prediksi saya di triwulan pertama ini tetap tumbuh negatif. Walaupun ada akan sedikit rebound. Sangat kita hargai sudah bisa rebound. Mudah-mudahan sudah terbiasa dengan kondisi yang ada. Maka otomatis mereka sudah nyaman dalam sektor selain pariwisata," sebutnya.

"Tatkala pariwisata kembali hidup, mereka sudah terbiasa dengan sektor selain pariwisata. Jadi saya rasa, kita harus mampu menjaga struktur perekonomian yang baru ini. Jangan hanya mengandalkan pariwisata saja. Kita harus shifting (bergeser) dari titik koordinat lama menuju titik koordinat yang baru," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00