Minat Kepemilikan Rumah Komersil di Bali Meningkat

Minat Kepemilikan Rumah Komersil di Bali Meningkat. (Istimewa)

KBRN, Denpasar : Fakta unik terjadi di sektor properti Pulau Dewata. Karena di tengah pandemi Covid-19, minat investor untuk memiliki rumah komersil di Bali justru meningkat. 

Ketua DPD REI Bali, I Gede Suardita. (KBRN)

Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Bali, I Gede Suardita mengakui adanya kenaikan minat kepemilikan rumah selama pagebluk corona. 

Beberapa alasan menjadi pemicu naiknya transaksi rumah komersil sepanjang tahun 2020. 

"Kalau penurunan harga secara spesifik tidak ada. Tapi diskon-diskon itu mungkin yang ada. Itu yang dicari. Mungkin pertimbangan mereka, sekaranglah bisa membeli properti di Bali dengan diskon yang lumayan besar kan. Kalau situasi normal kan sudah tidak mungkin," katanya kepada RRI di Sekretariat DPD REI Bali, Kamis (14/1/2021). 

Diskon yang diberikan developer (pengembang) rata-rata diangka 30 - 40 persen. Kebijakan potongan harga tak dipungkiri, menjadi strategi pengembang untuk menjaga sirkulasi keuangan perusahaan. 

Peminat rumah komersil kata Suardita sebagian besar berasal dari Jakarta dan Surabaya. 

"Pembeli-pembelinya itu mungkin kalau boleh dibilang teman-teman dari Jakarta dan Surabaya itu rata-rata belinya secara cash," ungkapnya. 

Meski demikian, DPD REI Bali mencatat adanya penurunan transaksi properti secara kredit. Kondisi itu akibat banyaknya pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mengalami penundaan oleh perbankan. Bila dikomparasi dengan tahun 2019, transaksi KPR rumah komersil tahun 2020 turun hingga 50%. 

"Kami sayangkan adanya penurunan signifikan atau diatas 50 persen untuk rumah komersil dengan pembiayaan KPR di perbankan. Hal itu karena adanya penundaan pembiayaan konsumen, terutama yang berkecimpung di sektor pariwisata," bebernya. 

Ia menjelaskan, rumah komersil memiliki range harga diatas Rp500 juta. Secara spesifikasi, rumah komersil konvensional dibanderol dengan harga maksimal Rp2 miliar, dan hotel atau villa diatas Rp2 miliar. 

Sedangkan lokasi properti yang menjadi incaran mayoritas berada di destinasi wisata populer Pulau Seribu Pura. 

"Itu tetap primadonanya daerah Jimbaran, Canggu, dan Ubud. Daerah itu merupakan destinasi wisata yang selama ini menjadi sasaran untuk investasi. Bukan hanya properti yang perumahan saja, hotel-hotel dan akomodasi wisata lainnya juga banyak sekali sebenarnya transaksi selama pandemi Covid-19 ini," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00