Ini Tiga Produk Investasi yang Bisa Datangkan Cuan

Pimpinan Cabang PT Solid Gold Berjangka (SGB) Bali, Peter. (Istimewa)

KBRN, Denpasar : Momen berburu keuntungan saat window dressing telah tiba. Pada momen yang berlangsung setiap akhir tahun ini terjadi kenaikan harga saham-saham unggulan (Blue Chips) secara serentak. 

Kenaikan biasanya terjadi pada kumpulan saham di Index Hangseng (HKK) dan Nikkei (JPK) untuk bursa di luar negeri atau investasi di perdagangan berjangka.

Pimpinan Cabang PT Solid Gold Berjangka (SGB) Bali, Peter menyampaikan, kondisi itu dikarenakan banyak perusahaan berusaha memoles laporan kinerja keuangan untuk meningkatkan harga saham pada akhir tahun. 

“Jangan sampai melewatkan momen Window dressing (WD). Momen ini akan berlanjut dengan January effect dan Imlek. Dengan pilihan investasi yang tepat, maka bisa didapat keuntungan maksimal," katanya dalam siaran pers yang diterima RRI, Rabu (2/12/2020). 

Untuk portofolio yang berpeluang cuan saat momen window dressing adalah investasi di Index Hangseng dan Nikkei dengan memilih kategori saham unggulan atau ‘Blue Chip’.

Peter menyebut, setiap tahunnya index Hangseng (HKK) dan Nikkei (JPK) mengalami lonjakan saat momen window dressing tumbuh mencapai 10 persen hingga 30 persen dalam satu hari perdagangan bursa.

"Keputusan investasi yang disarankan nanti adalah hold untuk transaksi indeks Hang Seng dan Nikkei, dan buy sampai awal tahun. Untuk range harga pada Hang Seng adalah 26.400 dan 26.900, sementara untuk Nikkei berada di kisaran 26.500 – 27.050," ungkapnya. 

Sementara produk derivatif emas juga layak dipilih. Proyeksi harganya masih akan bertahan di level US$ 1.765/troz dan setelah 3 bulan akan menembus US$ 1.850/troz. 

"Harga emas masih memiliki ruang untuk bergerak naik ke harga yang lebih tinggi, ditengah ketidakpastian berita tentang vaksin COVID-19," sebutnya. 

"Guna mendapatkan keuntungan besar saat momen window dressing, selain memilih investasi yang tepat, investor harus cermat mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental. Selain itu memahami manajemen risiko yang baik," imbuhnya. 

Peter lebih lanjut mengungkapkan, SGB Bali mulai saat ini untuk pembukaan akun telah menetapkan minimal modal awal $20 ribu atau sekitar Rp 200 juta. Hal ini untuk menjaga ketahanan dana nasabah atau meminimalisir risiko transaksi.  "Belajar dari pengalaman sebelumnya, dengan minimum modal Rp 100 juta, banyak investor yang mengalami risiko karena tidak memiliki ketahanan dana yang cukup saat market floating. Hal-hal seperti ini yang menjadi akar permasalahan di SGB Bali beberapa waktu lalu. Dengan komitmen manajemen dan tim yang solid, SGB Bali dengan manajemen baru telah menyelesaikan seluruh permasalahan sebelumnya dengan baik," bebernya. 

“Ke depan kami akan menjaga hubungan yang erat dengan para nasabah dan meyakinkan seluruh elemen masyarakat di pulau dewata bahwa SGB Bali sekarang hadir dengan perubahan yang lebih positif dan memiliki komitmen untuk memberikan layanan investasi yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan nasabah. Bagi nasabah yang baru bergabung sudah merasakan perbedaan layanan yang kami berikan, dengan pengalaman transaksi untuk mendapatkan profit yang maksimal," pungkas Peter.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00