Trip 14, Peserta We Love Bali Nikmati Kekayaan Alam dan Sisi Spiritual Pulau Dewata

Trip 14, Peserta We Love Bali Nikmati Kekayaan Alam dan Sisi Spiritual Pulau Dewata. (Istimewa)

KBRN, Denpasar : Pemerintah telah menggulirkan program 'We Love Bali'. Program ini sebagai salah satu upaya pemulihan sektor kepariwisataan yang terpuruk selama pandemi COVID-19.

Tak hanya untuk pemulihan, We Love Bali juga menjadi salah satu program kampanye Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE). 

We Love Bali diikuti peserta dari berbagai kalangan seperti dosen, guru, mahasiswa, ASN, karyawan perusahaan swasta, karyawan usaha wisata, Pokdarwis, komunitas hobi, dan fotografer. 

Panitia We Love Bali dari PT. Aldabra Project Indonesia, Bagus Kusuma berharap langkah ini dapat mewujudkan kesadaran akan keselamatan serta keamanan dikalangan pelaku pariwisata Pulau Dewata dalam berkegiatan selama pandemi COVID-19. 

"Dimasa pandemi ini, kesadaran akan kebersihan, kesehatan, keamanan dan lingkungan, tentunya juga memerlukan dukungan dari masyarakat (komunitas), akademisi, pengusaha, dan media," kata Bagus Kusuma dalam siaran pers yang diterima RRI, Senin (30/11/2020). 

Pria yang juga pelaku pariwisata ini mengatakan, We Love Bali menjadi salah satu program pemulihan pariwisata. Selain itu, We Love Bali juga untuk mengedukasi mengenai CHSE di tempat wisata. Ia menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman terhadap penerapan protokol CHSE kepada seluruh pengelola daya tarik wisata dan desa wisata.

Edukasi ini dipastikan mencakup pengawasan penerapan protokol kesehatan, di hotel tempat menginap, dan daerah tujuan wisata yang dikunjungi, dengan mengisi form cek list CHSE. 

"Implementasi penerapan CHSE ini sangat penting, untuk menunjukkan bahwa Bali sebagai destinasi wisata internasional sungguh-sungguh berkomitmen dan mampu menerapkan protokol kesehatan," ujarnya.  

Program We Love Bali adalah cara mempromosikan kepariwisataan Pulau Seribu Pura yang kini terpuruk.

“Promosi itu dibarengi dengan kunjungan ke daya tarik wisata dan desa wisata," ucap Bagus Kusuma. 

Ia memaparkan, We Love Bali yang berlangsung selama Oktober hingga November 2020 tak sekadar berkunjung ke destinasi wisata. Lebih penting dari itu, program ini menjadi implementasi dari komitmen penerapan protokol kesehatan bidang pariwisata. 

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan fasilitas berupa akomodasi selama dua malam di hotel atau homestay yang ditetapkan panitia, konsumsi, transportasi, tiket masuk daerah tujuan wisata, biaya tes cepat, dan perlengkapan lainnya. 

“Kali ini program 14 trip  Denpasar - Baturiti - Bedugul - Banjar - Gerokgak - Bayuwedang - Jembrana - Denpasar pada tanggal  27 November 2020, hingga 29 November 2020," jelasnya. 

Peserta dihari pertama mendatangi sejumlah objek wisata, mulai dari Bajra Sandhi hingga Bedugul. Peserta juga diajak berkunjung ke Pod Chocolate Bali. Pod Chocolate Bali merupakan salah satu produsen cokelat terkenal di Pulau Dewata. Berdiri pada tahun 2010, Pod Chocolate Bali menghasilkan salah satu cokelat terbaik dunia. Pod Chocolate Bali hadir di tempat tumbuh pohon kakao yaitu di surga tropis Bali. Pod Chocolate Bali berusaha selalu untuk memberdayakan masyarakat, dan mendukung petani untuk meningkatkan hasil dan meningkatkan kualitas produksi. 

Setelah itu peserta juga bertandang ke The Bloom Garden, Tabanan yang berada di dataran tinggi pegunungan, dan berhawa sejuk. Objek wisata ini menawarkan pemandangan taman bunga cantik, megah dan spektakuler. Taman-taman yang disuguhkan mengadopsi gaya taman bunga Dubai Miracle Garden yang dipenuhi dengan bungabunga cantik. Taman wisata terbaru di kawasan Bedugul Bali ini, juga menyediakan berbagai spot foto selfie, sehingga akan menjadi incaran para kawula muda dan pecinta alam.

Pada hari kedua program trip 14, peserta diajak menuju Bedugul - Singaraja - Gerokgak. Dihari kedua ini, peserta diajak bersembahyang dan berkegiatan di Pura Pulaki. Pura Pulaki adalah candi Hindu Bali atau pura yang terletak di sebelah barat Singaraja, Bali, Indonesia. Candi ini diatur di tanah datar, dengan singkapan berbatu sebagai latar belakang. Pura Pulaki adalah pura segara atau pura laut Bali, yang mengelilingi pulau untuk membentuk rantai kuil yang melindungi pulau.

Dihari ketiga, peserta diajak berkunjung ke wisata penangkaran Jalak Bali. Burung Jalak Putih atau terkenal di Bali, dengan nama Curik merupakan burung endemik Jawa dan Bali. Jenis burung yang pernah kerap diburu untuk perdagangan illegal, karena harganya pernah menyentuh puluhan juta. Pada tahun 90-an burung ini disimpulkan langka, sangat sulit ditemui dihabitatnya, Bali Barat.

"Ini alasan kenapa upaya penangkarannya digenjot. Salah satu pusat penangkaran ada di samping kantor Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Namanya Pusat Pelepasliaran Jalak Bali Cekik, masuk wilayah seksi I (Jembrana) TNBB. Disetiap destinasi, peserta dibekali kantong sampah dan mereka diwajibkan memungut sampah plastik di lokasi. Hal itu sebagai bentuk kepedulian dan pelestarian alam," ungkap Bagus Kusuma

Anggota Tim Percepatan Pemulihan Pariwisata Bali, Ketut Jaman menyatakan sejumlah trip sudah berlangsung sejak awal Oktober dan masih berjalan hingga November 2020.

Disetiap daya tarik wisata akan dilibatkan UMKM sebagai penyedia souvenir. Souvenir itu dijual kepada para peserta.

Ia menyebut, program ini sebagai upaya masif pemerintah dalam mempromosikan pariwisata Bali Era Baru kepada masyarakat luar melalui media sosial peserta.

"Kita juga menyiapkan pariwisata Bali untuk menyambut wisman sejalan dengan Pergub Nomor 46 Tahun 2020, dan meningkatkan ekonomi," tutup Ketut Jaman.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00