Harga Emas Meroket, Pengamat: Investor Mencari Safe Haven

KBRN, Denpasar : Perekonomian dunia mengalami resesi akibat pandemi virus corona. Bahkan pertumbuhan perekonomian Indonesia menurut skenario terburuk Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati hanya diangka 2,3%. Proyeksi itu berkaca pada kondisi saat ini, dimana seluruh instrumen perekonomian akan mengalami kontraksi. 

Hanya saja ada yang menarik dari fenomena beberapa bulan terakhir. Ditengah kemerosotan seluruh komoditi termasuk minyak dunia, harga emas justru melambung tinggi. 

Diawal pekan pertama bulan April 2020, harga emas batangan PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk berada diangka Rp931.000 per gram, dan nilai buyback diharga Rp832.000 per gram. 

Disisi lain, emas spot naik 0,64% ke level US$ 1.631,11 per ons troi. Sedangkan emas berjangka pengiriman Juni 2020 ke US$ 1.662,80 per ons troi atau naik 1,04%. 

Pengamat Ekonomi, Prof. Gede Sri Darma berpandangan, kondisi itu dipicu pandemi corona. Investor saat ini disebut mencari instrumen investasi berbentuk safe haven seperti logam mulia dan dolar Amerika Serikat. 

"Dengan adanya emas, karena sifatnya sangat liquid, maka harga akan naik terus, sama dengan dolar Amerika Serikat. Tetapi kalau properti, itu tambah lagi kacau, banting harga nanti jatuh-jatuh banget," ungkapnya kepada RRI di Denpasar, Selasa (7/4/2020). 

Investasi logam mulia kata Sri Darma tidak sebatas emas batangan, namun juga dalam bentuk digital. Emas batangan rata-rata diminati investor berusia 40 hingga 50 tahun atau generasi baby boomer. 

"Tapi anak muda biasanya lebih senang yang emas digital. Karena bisa dijual setiap saat, ibarat seperti pasar saham. Sehingga bisa dijual dibursa efek, emas pun demikian. Bisa diperdagangkan dalam waktu singkat, dan bisa mendapatkan cuan (untung) dari pergerakan emas itu sendiri," katanya. 

Tingginya harga emas diakui Sri Dharma menjadi potensi untuk berinvestasi. Ia memperkirakan, pandemi corona yang berkepanjangan dapat memicu kenaikan harga emas batangan hingga angka Rp2.000.000 per gram. 

"Tergantung COVID-19 ini. Kalau lama dia, terus bergerak naik, otomatis mencari titik keseimbangan baru. Itu semua tergantung dari hukum pasar. Artinya begini, kalau orang terus investasi dengan harapan liquid, bisa jadi ke angka itu," beber Sri Darma yang juga menjabat sebagai Director of Undiknas Graduate School tersebut. 

"Karena investor kan mencari untung, dan berpikir daripada nanti naik dan uang saya mengalami inflasi tinggi, lebih baik sekarang saya beli, walaupun terlambat. Pasti naik terus, karena permintaan banyak, dan ketersediaan terbatas," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00