"Annual Event 2019", BSWA Diminta Gunakan Produk Ramah Lingkungan

KBRN, Jimbaran : Bali Spa and Wellness Association (BSWA) menggelar annual event 2019 bertajuk "Nurture, Knowledge & Networking XIV". Berbagai hal mengemuka dalam kegiatan yang mengangkat subtema "Eco Sustainable Spa & Wellness Industry".

 

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Dewa Ayu Laksmi menilai, sejauh ini industri spa di Pulau Dewata sudah tertata dengan baik. Meski demikian, BSWA diminta tetap merangkul usaha spa di Bali yang belum terdaftar. Tujuannya agar industri spa di Pulau Seribu Pura bisa tetap menjadi ujung tombak kepariwisataan selain leisure dan MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition).

 

Ia berpandangan, wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke spa bisa diklasifikasikan sebagai quality tourism. Sejauh ini, pelancong asing khususnya asal China memiliki ketertarikan besar untuk menikmati spa khas Bali.

 

"Jadi sebetulnya spa ini ketika orang sudah melakukan spa atau wellness, itu sebetulnya dia sudah quality tourism, kalau menurut saya. Karena orang menuju ke spa itu sudah tidak mikir lagi perut kan? Duitnya itu sudah duit dingin. Jadi quality tourism, true doing spa atau wellness, itu sebetulnya," ungkapnya kepada wartawan di Jimbaran, Kamis (5/12/2019).

 

Selain itu, Laksmi menyinggung soal penggunaan material dan produk spa ramah lingkungan. Langkah itu disebut untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Bali bebas sampah plastik.

 

"Intinya jadi spa ini kan yang penunjang. Yang penunjang itu mulai dari pengemasan bahan-bahan. Misalnya boreh. Selain itu shower cap bisa diganti dengan apa? Alas ini yang mungkin sekali pakai, orang kan biasanya sekali pakai, ada kertas, ada plastik. Nah misalkan sekarang alasnya itu dipakai kain. Menggunakan misalnya jangan paraffin atau lilin. Itu kan misalnya kalau nanti mandi kan dia berlemak ya, tetapi kalau bahan-bahan kita alami, boreh itu kan dia ramah lingkungan. Jadi otomatis dia tidak mencemari lingkungan atau air," ujarnya.

 

"Spa and wellness ini juga bisa menjadi pariwisata berkesinambungan. Jadi goalnya adalah kebersinambungan, dimana lingkungan dulu. Kita ambil yang tidak usah jauh-jauh ya, kita ambil bagaimana kita mempreserve lingkungan dengan baik, kemudian mengangkat kearifan lokal kita melalui produk-produk penunjang spa," lanjutnya.

 

Pengawas BSWA, Lulu Susiana Widjaja pada kesempatan yang sama mengemukakan, saat ini keanggotaan di Bali Spa and Wellness Association mencapai 130. Ia mengatakan, seluruh anggota BSWA memiliki komitmen untuk menggunakan produk ramah lingkungan. Komitmen itu diwujudkan dengan mengeliminir atau minimal mengurangi produk yang menggunakan bahan dasar plastik.

 

"Massage oil sekarang yang sekarang kita gunakan adalah yang kena air dia langsung hilang. Kan banyak massage oil yang dicuci itu susah hilang dari kain. Sekarang sudah ada supplier yang sudah bikin dengan water itu, jadi sekali kena air dia larut. Itu salah satu langkah kita menggunakan produk dengan bahan yang ramah lingkungan," timpal Lulu.

 

 

 

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00