Tiket Pesawat Mahal, Pemulihan Pariwisata Terancam?

KBRN, Denpasar : Kenaikan harga tiket pesawat yang terbilang fantastis masih menjadi sorotan berbagai kalangan di Tanah Air.

Tidak hanya domestik, tingginya harga tiket pesawat juga terjadi untuk beberapa rute internasional.

Kondisi ini tentu kontradiktif dengan semangat pemerintah pusat untuk mengakselerasi pemulihan sektor kepariwisataan Tanah Air. 

Khusus Bali, berbagai kalangan berpandangan mahalnya tiket pesawat menjadi "obstacles" (rintangan) terhadap upaya pemulihan sektor pelesiran.

Mengacu data PT Angkasa Pura I (Persero), pergerakan penumpang domestik dan internasional di Bandara Ngurah Rai masih tergolong tinggi. 

Pergerakan penumpang domestik, untuk kedatangan rata-rata 12.540 orang per hari, dan keberangkatan rata-rata 11.924 orang per hari.

Sedangkan penumpang internasional, kedatangan rata-rata 6.352 orang per hari, dan keberangkatan rata-rata 5.573 orang per hari. 

Ketua Bali Villa Association (BVA), Putu Gede Hendrawan menilai, mahalnya harga tiket pesawat akan berpengaruh terhadap strategi pemulihan kepariwisataan.

"Jadi harapan kita kepada pemerintah bagaimana mensinergikan antara pelaku pariwisata, maskapai, dan imigrasi," ungkapnya kepada RRI.co.id, Selasa (28/6/2022). 

"Jadi ketiga lini tersebut kita harapkan, pemerintah berperan agar para pelaku pariwisata, maskapai, dan imigrasi memiliki satu visi atau satu misi untuk kembali membangkitkan pariwisata, khususnya pariwisata Bali ini," lanjutnya. 

Hendrawan juga meminta pemerintah segera melakukan komunikasi dengan sejumlah maskapai asing yang selama ini melayani rute ke Indonesia. 

Tujuannya agar maskapai asing tersebut bisa memberikan tarif yang kompetitif dan terjangkau bagi calon wisatawan.

"Sedangkan untuk imigrasi juga bagaimana memberikan pelayanan pada wisatawan mancanegara itu masuk di Bandara Ngurah Rai secara prima, dan kalau bisa diberlakukan fast track seperti dulu, agar tidak memperlambat," ujarnya. 

Sementara Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati berkeyakinan, tarif tiket pesawat tidak akan berdampak signifikan.

"Ada beberapa, tetapi kemarin ketika saya tanyakan Australia, justru sandungannya bukan harga tiket. Sandungannya adalah untuk pengurusan paspor," bebernya. 

Cok Ace lebih menekankan soal masih minimnya frekuensi penerbangan asing ke Bali. 

Pemerintah diakui terus berupaya agar terjadi penambahan rute penerbangan asing, utamanya dari Australia ke Pulau Seribu Pura. 

"Terutama beberapa kota yang belum terlayani sampai sekarang, kita akan kejar pasar-pasar itu," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar