Harga Bapok 'Meledak', Pengamat: Waspadai Invisible Hand

KBRN, Denpasar : Harga bahan pokok (bapok) meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah komoditas yang mengalami lonjakan harga, seperti minyak goreng, telur ayam, cabai, dan bawang merah. 

Pengamat ekonomi, Prof. Dr. Nyoman Sri Subawa mengatakan, mekanisme pasar sangat bergantung pada produksi.

Menurutnya keseimbangan supply dan demand sangat mempengaruhi harga pasar. 

"Kalau over produksi tentu menjadi lebih murah. Tetapi produksi kurang, kebutuhan masyarat meningkat, tentu harga akan menjadi melambung tinggi," katanya kepada RRI.co.id, Sabtu (15/1/2022). 

Terlepas dari keseimbangan penawaran dan permintaan, Sri Subawa mengingatkan soal campur tangan "invisible hand".

Invisible hand kata Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar itu memiliki andil signifikan dalam mempermainkan harga pasar. 

"Invisible hand yang tidak kita ketahui itu siapa. Itu menjadi persoalan biasanya, kenapa harga tiba-tiba meningkat. Itu harus dipertimbangkan," ungkapnya. 

"Bisa jadi pada saat pendistribusian ada keterlibatan pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan dari situ. Menyimpan stoknya atau ada beberapa pihak yang mencoba bermain disitu, mengeruk keuntungan dari distribusi produk atau barang yang kita distribusikan, khususnya bahan pokok. Itu persolan," imbuhnya. 

Menyikapi kondisi ini, pemerintah idealnya memantau secara komprehensif dan berkesinambungan seluruh rantai pasok bahan pokok. 

Pemantauan bisa dilakukan terhadap pelaku bisnis, distributor, dan seluruh pihak yang terlibat dalam supply chain bahan pokok. 

Meski tidak mudah, akan tetapi Sri Subawa yakin, pemerintah memiliki kemampuan untuk memantau invisible hand atau spekulan. 

"Jadi sangat tergantung mekanisme pasar ini oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan, pihak-pihak yang mendistribusikan, termasuk konsumen sendiri, lalu ada penumpukan," katanya.

"Misalnya penumpukan suatu produk, lalu didistribusikan ketika kelangkaan itu terjadi atau produk itu sangat minim, sehingga memperoleh keuntungan dari situ," lanjutnya. 

Selain pemantauan, pemerintah juga bisa menyiasati manipulasi pasar oleh spekulan dengan normalisasi produksi, dan distribusi. 

"Kalau pasar sudah berjalan normal, artinya produksi normal, distribusinya normal, semestinya harga tidak terjadi kenaikan," ucapnya. 

Ditanya dampak operasi pasar, Sri Subawa berpandangan, strategi pemerintah ini kurang efektif.

Alasannya, operasi pasar yang selama ini dilakukan tidak berkesinambungan. 

"Saya kira (operasi pasar) itu sesaat. Semestinya operasi pasar tidak pada momen-momen tertentu saja. Kebersinambungan itu mesti dilakukan," tegasnya. 

Sri Subawa pada kesempatan ini juga mengkritik jalan pintas yang kerap dilakukan pemerintah. 

Jalan pintas itu berupa impor bahan pokok yang mengalami kenaikan harga akibat kelangkaan pasokan. 

Impor dipastikan bukan solusi bijak dalam menciptakan keseimbangan pasar. 

"Tidak semudah itu dengan impor. Harapan masyarakat kan harga bisa normal. Kalaupun terjadi kenaikan yang disebabkan biaya produksi tinggi atau inflasi, tentu kan wajar. Kalau kenaikan yang wajar, saya kira tidak menjadi persoalan," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar