"Ulapan", Solusi Pengembangan Pariwisata Bali Berkelanjutan

KBRN, Denpasar : Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Pemerintah Provinsi Bali meluncurkan Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali, Jumat (3/12/2021). 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengemukakan, peta jalan ini menjadi upaya pemerintah pusat memulihkan perekonomian Bali.

Salah satu upaya itu dengan memperkuat fondasi perekonomian Pulau Dewata. 

Perkuatan itu diejawantahkan dengan enam strategi transformasi ekonomi yang selaras dengan nilai filosofi kearifan lokal. 

"Saat ini Bali memiliki tantangan kesehatan yang cukup besar. TBC dan HIV merupakan penyakit menular tertinggi, angka kematian bayi berada diatas rata-rata nasional. Mayoritas tenaga kerja di Bali berpendidikan SMP ke bawah, sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas," ungkap Suharso Monoarfa, di Three Mountains Kura-Kura Bali. 

"Dengan strategi Bali pintar dan sehat, Bali akan memiliki Sumber Daya Manusia yang sehat, cerdas, berkarakter kuat, kreatif, dan memiliki kemampuan inovasi yang tinggi," imbuhnya. 

Suharso menjabarkan, enam strategi itu juga mengakomodir pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. 

Strategi itu didukung oleh masterplan 'Ulapan'.

Masterplan 'Ulapan' merupakan pengembangan tiga zonasi, yakni Ubud, Tegallalang, dan Payangan. 

"Zonasi pertama pengembangan produk wisata berbasis keluhuran warisan budaya Ubud. Zona dua pengembangan produk wisata berbasis budaya keseharian masyarakat Ubud, dan zona ketiga pengembangan produk wisata berbasis wisata alam dan petualangan," bebernya. 

Selain itu, Suharso menyoroti masalah lingkungan hidup yang dihadapi Bali.

Pulau Dewata disebut wajib mengeliminir sejumlah problematika, seperti peningkatan emisi, kenaikan permukaan laut, tingginya konsumsi energi non-terbarukan, dan pengelolaan sampah. 

"Dengan strategi Bali Hijau, mudah-mudahan Bali dapat mewujudkan penurunan emisi pada sektor pertanian. Pengelolaan sampah dengan teknologi maju, transportasi ramah lingkungan, implementasi blue economy sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, dan mewujudkan luas hutan mangrove yang ideal," katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar