Pro Kontra 'Balada' PPKM Level 3 Nataru

KBRN, Denpasar : Pemerintah bakal menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 saat Natal dan Tahun Baru (Nataru).

PPKM Level 3 yang berlaku di seluruh Indonesia, menjadi upaya mencegah penularan Covid-19 selama Nataru. 

Pro dan kontra pun menyeruak, menyikapi PPKM Level 3 yang berlaku sejak 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. 

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Widiada setuju dengan kebijakan itu. 

Menurutnya, pemerintah telah mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan penerapan PPKM Level 3 serentak. 

"Karena bagaimanapun juga pandemi Covid-19 ini kan belum selesai. Karena ada perkembangan di Negara lain," katanya kepada RRI.co.id di Puri Peguyangan, Senin (29/11/2021). 

Penglingsir Puri Peguyangan itu menilai, PPKM Level 3 saat Nataru tak akan berdampak signifikan.

Terlebih, pasca open border Kamis 14 Oktober 2021, belum ada satupun wisatawan mancanegara (wisman) mendatangi Pulau Dewata. 

"Oleh karena itu, kebijakan ini saya kira kebijakan yang sangat tepat. Bagaimanapun juga Bali, selama open border ini, yang datang itu justru wisatawan nusantara (wisnus)," kata politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu. 

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana di tempat terpisah sangat memahami maksud pemerintah. 

Namun pelaku industri pariwisata berharap, pemerintah lebih berani dalam melonggarkan aktivitas masyarakat saat malam pergantian tahun. 

"Sudah saatnya kita berpikir lain. Belajar kita mengendalikan, kalau tidak begitu, kapan kita belajar? Toh vaksin dua sudah hampir 90 persen, terus kita punya PeduliLindungi, kita punya protokol kesehatan yang bagus. Itu saatnya diuji sebenarnya," tegasnya. 

Gus Agung mengaku, telah memberikan masukan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Masukan itu terkait pelonggaran perayaan Tahun Baru 2022.

Pelonggaran itu tentunya wajib mengedepankan protokol kesehatan.

"Yang datang misalnya harus melakukan rapi antigen, menggunakan PeduliLindungi, terus diadakan di ruangan terbuka, tidak ada alkohol, seperti itu. Jadi ini ditujukan, kita bisa belajar, bahwa kita bisa mengendalikan. Baik dari Satgas, maupun industrinya," ucapnya. 

Hanya saja Gus Agung mengatakan, pemerintah saat ini masih berkutat pada penanganan kesehatan. 

Bandul itu diakui berdampak pada lambatnya pemulihan perekonomian dalam negeri.

"Sudah saatnya ditarik sedikitlah ke ekonomi. Biar hidup, dan sekalian membuktikan kepada internasional, bahwa kita itu mampu mengendalikan," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar