Akselerasi Diversifikasi Bisnis, HIPMI Desak Pelibatan Pengusaha Lokal

KBRN, Denpasar : Bali saat ini tengah dibanjiri sejumlah 'megaproyek'. 

'Megaproyek' itu diantaranya Jalan Tol Mengwitani-Gilimanuk, Perlindungan Kawasan Suci Pura Besakih, Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung, dan pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai Bali Maritime Tourism Hub. 

Seluruh megaproyek itu digarap menggunakan anggaran yang tidak sedikit.

Kabarnya, semua megaproyek di Bali menelan dana hingga Rp12,167 triliun. 

Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bali, Agus Pande Widura alias APW berpandangan, seluruh proyek di Pulau Dewata idealnya melibatkan pengusaha lokal. 

Hal itu dianggap sebagai upaya mempertahankan eksistensi pelaku usaha yang terdampak pandemi Covid-19.

"Memang harapan kami selaku Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Bali, besar harapannya untuk bisa sama-sama mendongkrak perekonomian ke depannya. Tentunya ini tidak bisa kami lakukan sendiri, melainkan dengan bantuan semua pihak, antara lain juga disini pemerintah," katanya kepada RRI.co.id di Sekretariat BPD HIPMI Bali, Senin (27/9/2021). 

"Ketika kita berbicara, mungkin ada proyek-proyek atau apapun yang dilaksanakan di Bali, besar harapan kami untuk bisa dilibatkan, untuk bisa tetap menjaga perputaran perekonomian di Bali," sambungnya. 

Pelibatan pengusaha lokal kata APW berbanding lurus dengan anjuran Gubernur Bali I Wayan Koster untuk mengakselerasi diversifikasi bisnis. 

Menurutnya, penganekaragaman bisnis dapat memicu tumbuhnya wirausahawan di Pulau Seribu Pura. 

Ketika angka wirausahawan tumbuh, ia yakin akan mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan lapangan pekerjaan. 

"Jadi memang harapan kami berikanlah kami kesempatan kepada pengusaha-pengusaha muda untuk bisa ikut bersaing di ajang nasional. Bukan hanya di Bali, tentunya harapan kami bisa go nasional. Karena bagaimana juga Pak Jokowi ingin memperbanyak wirausahawan sukses di Bali," ujarnya. 

"Mungkin saat ini pengusaha yang tergolong sukses secara nasional itu kurang lebih 100 orang, tetapi besar harapan kami ini bisa berkembang ke depannya menjadi ribuan. Tentu harapan saya selaku Ketua Umum HIPMI Bali, ingin pengusaha-pengusaha Bali juga ikut dikancah nasional," lanjutnya. 

Megaproyek yang cukup relevan melibatkan pengusaha lokal adalah pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai Bali Maritime Tourism Hub. 

Tak hanya itu, pengusaha lokal juga bisa dilibatkan di proyek perlindungan Kawasan Suci Pura Besakih, dan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung,

"Khusus Pelindo 3 di Pelabuhan Benoa ini memegang suatu aspek secara keseluruhan, dan ini juga menjadi suatu hal yang membanggakan buat Bali. Tentunya kita juga ingin ikut bersama-sama untuk mencetak suatu sejarah untuk bisa membuat Bali lebih bagus ke depan," ucapnya. 

Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Bali dipastikan memiliki potensi dan kemampuan untuk dilibatkan dalam proyek Bali Maritime Tourism Hub. 

"Alangkah baiknya kita dilibatkan dalam perencanaan ke depannya, supaya tidak menjadi tumpang tindih di waktu-waktu akhir," tegasnya. 

APW menyebut, ruang UMKM di Pelabuhan Benoa idealnya diperuntukkan bagi pengusaha Bali. 

Terlebih Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sempat mengisyaratkan, ruang khusus UMKM itu akan mengakomodir pelaku lokal. 

"Karena Pak Menteri BUMN memang mau dimaksimalkan untuk pengusaha atau UMKM di Bali. Ini sangat membantu. Hanya tentunya, mari kita bersama-sama untuk mengawasi bagaimana ke depannya. Harapan kami saat ini, ketika kita berbicara diversifikasi, inilah salah satu jalan yang mungkin kita bisa tempuh," tuturnya.

Agus Pande Widura menguraikan, pengusaha Bali yang cukup potensial mengisi UMKM Center di Pelabuhan Benoa adalah yang berkecimpung di sektor kuliner.

"Makanan di Bali ini banyak sekali yang bisa dikemas menarik. Termasuk arak juga di dalamnya. Dengan adanya UMKM Center ini, ada kesempatan dari pedagang, untuk melakukan presentasi terkait daripada storytellingnya. Storyteller ini kan sangat penting untuk mengangkat suatu harga daripada suatu produk," ungkap mantan Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Bali itu. 

"Kalau kita boleh ambil contoh di luar, begitu banyak barang-barang yang kaya akan cerita. Cerita kita di Bali ini kan banyak sekali. Dengan adanya UMKM Center ini bisa ada kesempatan dari penjual untuk menceritakan. Ini bisa dari mulut ke mulut yang akhirnya menjadi suatu daya tarik tersendiri," imbuhnya. 

Selain itu, potensi lain UMKM Bali adalah kerajinan tangan.

Kerajinan tangan diakui menjadi magnet atau daya tarik Bali di mata wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. 

"Bahkan produk kenamaan dunia yaitu Dior pun menggunakan kain endek sebagai salah satu produknya. Hal-hal seperti ini memang harus dijaga konsistensinya," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00