MICE, 'Nafas' Pariwisata Bali yang Tersisa di Tengah Pandemi Covid-19

KBRN, Denpasar : Roda kepariwisataan Bali terhenti akibat pandemi Covid-19. 

Seluruh pegiat pariwisata kalang kabut, lantaran mandeknya sektor yang selama ini menjadi lokomotif perekonomian Pulau Dewata.

Namun di tengah kegelisahan yang kian memuncak, kepariwisataan Bali tampaknya masih menyisakan nafas.

Meski tak panjang, nafas yang tersisa ini bisa dibilang cukup memberikan celah kehidupan bagi para pelaku sektor plesiran. 

Nafas kepariwisataan yang tersisa adalah sektor meeting, incentive, convention, dan exhibition (MICE). 

Praktisi MICE Bali, I Ketut Jaman mengakui, sektor meeting, incentive, convention, dan exhibition masih menyimpan potensi di tengah pandemi Covid-19.

"Yang paling terpukul saat ini pasti segmen leisure. Program yang masih bisa dijalankan adalah segemn MICE. Segmen MICE kan masih jalan. Cuma kebanyakan dilakukan secara hibrid. Jadi jumlah orang yang hadir di suatu tempat itu pasti dibatasi. Tetapi minimal masih bisa jalan," ungkapnya kepada RRI.co.id di Denpasar, Kamis (29/7/2021).

"Lagipula program-program yang sudah direncanakan oleh pemerintah pusat kan harus dilaksanakan. Sebab kalau tidak, berarti kan kinerja mereka buruk. Walaupun akhirnya dilakukan dengan pembatasan-pembatasan," lanjutnya. 

Walaupun MICE tak terdampak signifikan, akan tetapi porsi yang tersisa tidak sebanyak sebelumnya. 

Ia memperkirakan, 'kue' MICE tahun 2021 tersisa 40 persen. 

"Anggaplah yang cukup sibuk itu, kita di industri MICE itu tahun 2018 dan 2019. Kenapa waktu itu sibuk, karena selain program-program MICE yang diinisiasi pemerintah pusat, juga ada swasta yang banyak. Kalau sekarang kan swastanya boleh dibilang tidak ada, kecuali BUMN, itupun sedikit. Kalau pemerintah pusat kan masih ada event-event skala kecil-kecil," bebernya. 

"Kalau kita melihat gambaran secara umum, masih berapa persen yang ada? Perkiraam saya 30 sampai 40 persen itu masih ada. Artinya kalau kita anggap 2018 sampai 2019 ada 100 event, tahun ini perkiraan saya 30 sampai 40 event masih terselenggara," sambungnya. 

Potensi MICE ini kata Jaman tak hanya menghidupi Professional Conference Organizer (PCO), melainkan beberapa sektor turunan lainnya.

Adapun sektor turunan yang merasakan 'buah' dari industri MICE, diantaranya akomodasi, catering, transportasi, dan penyedia alat digital. 

Keperluan terhadap penyedia alat digital disebut sangat meningkat, akibat perubahan paradigma industri MICE. 

Pelaksanaan MICE hibrid atau kombinasi antara offline dan online diakui memaksa PCO menyedikan piranti dengan spesifikasi yang mumpuni. 

"Misalnya kita mau menyelenggarakan zoom meeting, tidak bisa kita menggunakan laptop biasa. Harus kita mencari laptop yang kecepatannya tinggi, dan satu laptopnya itu rata-rata sudah menghabiskan biaya Rp80 juta sampai Rp100 juta untuk 1 unit. Sektor itu sekarang yang naik, karena itu dibutuhkan," sebutnya. 

"Kemudian sektor turunannya yang juga sangat dibutuhkan adalah, kalau di dunia digital itu disebut adamantite reality. Contohnya eksibisi virtual, seperti pameran virtual, dan itu biayanya tidak sedikit, sama dengan kita membangun rumah baru, bisa Rp100 juta sampai Rp150 juta, hanya membuat pameran secara virtual saja. Dan itu tenaga kita di Indonesia masih sedikit," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00