Umat Hindu akan Nglungsur Sega Pradnyan di Hari Banyu Pinaruh

KBRN, Denpasar: Banyu Pinaruh dirayakan sehari setelah Rahina Saraswati. Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air (kehidupan), dan pinaruh yang berasal dari kata weruh atau pinih weruh. Weruh sendiri bermakna pengetahuan, sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan. 

Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Tenaga Penyuluh Lapangan Agama Hindu Kota Denpasar Cokorda Putra Wisnu Wardana ditemui RRI seusai ritual Puja Saraswati di Pura Agung Jagatnatha Denpasar Sabtu, (7/12/2019).

“Itu sebagai puncak penyadaran kita. Banyu Pinaruh, Banyu itu adalah air, weruh atau pinih weruh adalah pengetahuan. Dengan demikian aliran air pengetahuan yang disimbolkan dalam lambang-lambang Saraswati menandakan bahwa ilmu pengetahuan itu harus terus dikejar”, paparnya.

Cok Wisnu Wardana mengatakan yang menarik dalam ritual Banyu Pinaruh adalah tradisi “nglungsur sega pradnyan” yakni sebuah persembahan nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya yang dapat dimakan pasca dipersembahkan kepada Tuhan.

“Ada unsur utama dari upakara yaitu sega pradnyan. Itu adalah persembahan nasi lengkap dengan lauk pauk yang selanjutnya kita tunas (makan) setelah dihaturkan”, jelasnya.

Ketua Forum Tenaga Penyuluh Lapangan Agama Hindu Kota Denpasar menambahkan dengan nglungsur sega pradnyan tersebut diyakini sebagai simbolis memasukkan nilai-nilai religius ilmu pengatahuan dalam tubuh. Dengan demikian akan melahirkan inner beauty yang dapat memancarkan cahaya kebaikan dalam diri umat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00