Semburan Api di Sragen Membesar, Warga Gempar

KBRN, Surakarta: Semburan api di Desa Bonagong, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, semakin besar. Biasanya hanya berkisar 20-30 cm, kini bisa lebih dari 40 cm.  

"Iya ini semakin besar mas," kata Rebo (70) pemilik lahan munculnya api dari tanah kepada RRI, Senin (19/10/2020).

Oleh Rebo, semburan api itu kini dipasang pipa panjang sekitar 1,5 meter dengan diameter 2 inchi. Api tersebut jadi muncul di atas tanah melalui pipa. Pipa itu ternyata juga antisipasi agar tidak padam saat tanah disekitar api longsor.

"Dulu pas musim hujan itu api mati, karena lubang tertutup tanah karena aliran air. Tak kasih pipa itu jadi gasnya bisa naik," sambungnya.  

Rebo menyampaikan semburan api tersebut muncul dari lubang bekas sumur bor berdiameter 15 sentimeter. Saat itu, lanjutnya, fenomena semburan api itu langsung membuat gempar warga bahkan menjadi daya tarik warga dari berbagai daerah. 

"Sebenarnya sudah lama saya ngebor sumur itu ada tiga tahunan. Dulu sekitar tanah sini panas cuma tidak saya perhatikan. Lubangnya itu kan saya tutup batu," ujarnya. 

Kades Bonagung Suwarno mengatakan fenomena api di Sragen ini mulai menunjukan membesar dua pekan yang lalu. Namun, pihaknya, tidak mengetahui ada kaitannya dengan padamnya api abadi Mrapen di Grobogan.

"Ya memang besar ini, tapi enggak tau apa sejalur dengan sana (Mrapen)," ucapnya.

Menurut Suwarno, api abadi itu diketahui warga dan viral sekitar Agustus 2019. Dahulu saat diteliti oleh pihak Dinas ESDM Jawa Tengah sempat diprediksi nyala api itu tak akan bertahan lama. Namun prediksi itu ternyata meleset, sudah setahun lebih, api itu masih terus menyala. 

Karenanya, pihak desa berencana akan membangun area munculnya api sebagai potensi wisata desa. Awal-awal muncul api cukup membantu ekonomi warga sekitar karena pengunjung banyak. Makin ke sini karena pengunjung menurun mungkin mulai agak sepi. 

"Tapi melihat potensi api yang masih menyala, kita sedang berencana untuk membangun. Nanti kita bahas dulu dengan berbagai elemen,” kata Suwarno.

Sementara itu, Rebo menambahkan, lokasi ditemukannya semburan api  dahulunya merupakan lembah. Bahkan tidak jauh dari Kebonagung banyak ditemukan fosil binatang purba. Bahkan batu akik berjenis batu mani gajah. 

"Tapi sampai saat ini lebih dari setahun belum ada pihak yang meneliti ini," ujar Rebo. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00