Pembelajaran Jarak Jauh, Dilema Bagi Siswa Difabel

H. Bohari Muslim.jpg
SLBN Mataram.jpg

KBRN, Mataram: Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) belum banyak bisa diakses dengan baik oleh seluruh peserta didik. Terlebih para peserta didik yang memiliki keterbatasan fisik dan mental yakni peserta didik disabilitas.

Persoalan ini harus mendapat perhatian lebih pembangku kebijakan dalam hal ini dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi serta kabupaten kota.

"Ini harus menjadi perhatian khusus para pakar pendidikan bersama pemerintah. Jangankan daring, anak-anak didik kita yang difabel ini disaat belajar tatap muka butuh perhatian ekstra sehingga PJJ ini juga sangat menyulitkannya,” kata, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat Haji Bohari Muslim, Kamis (13/8/2020).

“Mungkin mereka anak – anak kita yang difabel ini diberikan perhatian yang lebih ekstra sebab belajar daring akan menambah beban tidak hanya anak tetapi juga para orang tuanya,” sambungnya.

Dikatakan Bohari Muslim, ada tiga macam pembelajaran ditengah wabah corona antara lain, online, semi online dan fisik at home. Pembelajaran secara fisik at home cara ampuh dalam memberikan pendidikan berkesinambungan yang digelar secara bergiliran.

“Jangan sampai nanti sudah mengeluarkan biaya anak-anak kita tidak maksimal memperoleh pendidikan. Ayo para tokoh, para ahli agar berbicara secara konfrehensif bagi pendidikan yang berkelanjutan wabil khusus pendidikan jarak jauh untuk disabilitas,” terangnya.

Politisi Nasdem ini mengakui, disaat kondisi saat ini semua tidak bisa diakses dengan menyeluruh sebab terdapat pembatasan dalam menekan penularan maupun penyebaran virus corona.

Untuk itulah, dinas pendidikan dan kebudayaan agar mencarikan formulasi yang tepat mengingat anggaran yang digelontorkan bagi kemajuan dan perkembangan pendidikan di daerah in cukup tinggi.

"Pendidikan berkeadilan dan merata bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali harus di kedepankan sehingga hajatan untuk mencerdarkan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat terimplementasikan dengan baik," tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Mataram Drs. Agung Wijayanto, M. Phil. SNE mengatakan, metode belajar dari rumah (BDR) melalu daring mengalami banyak kendala. Khususnya kegiatan BDR fase pertama seperti orang tua tidak memiliki telepon genggam.

“Khusus untuk SLB kami tidak bisa sepenuhnya menjalankan BDR itu dengan daring. Tentu banyak kendala-kendala, terutama untuk komunikasi kami dengan HP, internet itu tidak semuanya bisa hanya beberapa saja dan itupun hanya bisa kami lakukan melalui Whatsapp (WA) saja,” kata Agung, Kamis (13/8/2020).

Untuk mengatasi kendala tersebut pihaknya melakukan beberapa metode. Sebelumnya, pembelajaran dilakukan dengan cara mengirimkan tugas kepada para siswa melalui WA. Namun, karena tidak semua siswa memiliki HP, guru meminta orang tua siswa untuk datang mengambil bahan ajar ataupun penugasan ke sekolah.

“Kami menggunakan metode konvensional, yakni orang tua datang ke sekolah mengambil penugasan bila memungkinkan, kemudian guru meminta orang tua untuk mendampingi anaknya selanjutnya melaporkan hasilnya kepada guru,” jelasnya. 

“Dari fase pertama kami mengevaluasi banyak juga kendala seperti orang tua tidak memiliki transportasi dan mereka takut keluar rumah karena Covid-19,” jelasnya.

Selanjutnya, upaya yang dilakukan pihak sekolah yakni datang langsung ke rumah siswa atau home visit. Namun, metode tersebut masih memiliki kelemahan.

“Home Visit ini sebenarnya juga ada kelemahannya karena kami juga tidak tahu apakah guru yang kami tugaskan bebas dari virus atau tidak dan anak yang akan dikunjungi benar-benar steril atau tidak dari virus corona,” pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00