Kendala Pemulangan Jenazah ABK Ternate Dipastikan Teratasi

Jenazah Almarhum Saat Diturunkan di Pelabuhan Abidjan Afrika (Dok: RRI)
Sertifikat Kematian Almarhum Gunakan Bahasa Prancis (Dok: RRI)

KBRN, Ternate: Jenazah almarhum Riki Rifaldi Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kota Ternate meninggal di kapal ikan berbendera China yaitu kapal Harvest 352, Minggu (16/5/220), lalu, diperkirakan akan tiba di tanah air pada tanggal 7 hingga 9 Agustus 2020. 

"Proses pemulangan jenazah warga Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Provinsi Maluku Utara (Malut) ke tanah air itu, sebelumnya sempat terkendala karena penerapan Lockdown di tengah pendemi Covid-19 dan status kewarganegaraan," kata keluarga almarhum melalui penasehat hukum dari kantor hukum satudarah & partners (PH) Ridho Fhicry pada RRI, Kamis (6/8/2020).

Ridho memastikan, jenazah almarhum akan tiba di tanah air sesuai hasil komunikasi dan koordinasi dengan pihak perusahan PT. Delta Samudra Berjaya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dakar Senegal, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan Balai Pelayanan Penempatan dan Pelindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

"Insya Allah paling lambat tanggal 7 paling lama tanggal 9 sudah tiba di Indonesia bahkan di Ternate," imbuhnya.

Ia mengatakan, saat ini semua dokumen proses kepulangan jenazah almarhum ke tanah air sudah dilengkapi, termasuk kepengurusan status kewarganegaraan yang telah dibuat melalui proses sidang di pengadilan setempat serta aturan yang berlaku di negara setempat jika ada WNA yang meninggal.

"Proses persidangan tersebut untuk mengangkat atau mengaktifkan status daripada hak kewarganegaraan asing di pengadilan setempat sudah dilakukan dan baru selesai pada Senin kemarin," terangnya.

Dijelaskan, setelah dinyatakan meninggal pada 16 Mei dan dibawa ke pelabuhan Abidjan Pantai Gading, Afrika Barat pada 17 Mei sesuai dengan ketentuan peraturan yang berkalu, jenazah akan langsung dilakukan pemeriksaan.

Namun, lanjutnya, karena bertepatan dengan pandemi Covid-19 maka proses pemeriksaan tertahan dan mengharuskan status almarhum agar dilakukan pemeriksaan oleh otoriter setempat dengan jangka waktu 14 hari sesuai ketentuan di negara tersebut.

"Karena terkendala itu maka proses pemeriksaan itu tertunda dan melewati 14 hari dinegara setempat maka status alhamrhum kena pinalti dan harus dilakukan pengurusan status melalui pengadilan itu sendiri," ujarnya.

Terkait dengan hak almarhum selama bekerja di perusahan, kata Rido, hak almarhum termasuk sisa hak gaji kerja sudah terbayarkan, tersisa hanyalah hak asuransi kematian.

"Asuransi kematian itu nanti akan terbayarkan setalah proses pemakaman telah selesai dilakukan," tuturnya.

Diungkapkan, almarhum selama berada di RS Abidjan Pantai Gading Afrika Barat, belum dilakukan otopsi tetapi bukan hanya berlaku terhadap WNA melainkan semua jenazah karena bertepatan dengan pandemi Covid-19.

"Meski begitu, dalam sertifikat kematian yang diterbitkan menggunakan bahasa Prancis tersebut bertuliskan bahwa alhamrhum meninggal karena sakit," pungkasnya.

Untuk diketahui, selain Riki, sebelumnya 3 ABK kapal ikan berbendera China asal Kota Ternate juga meninggal dunia saat berada diluar lepas.

Ketiga ABK tersebut merupakan warga kelurahan Rua Kecamatan Pulau Ternate, dengan identitas yakni, Saldi Djainudin, M. Arifqi Maulana Ramli dan Rian Bahri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00