Bermodal Sepeda Onthel, Jual Bantal Kapuk Keliling

Penjual Bantal Keliling

KBRN, Atambua:  Ditengah kesulitan mencari pekerjaan untuk menafkahi hidup, warga perbatasan Atambua Kabupaten Belu, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kini lebih memilih bekerja sebagai penjual bantal keliling.

Seperti apa yang dilakoni Andreas Talan warga kelahiran Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan telah menetap puluhan tahun di kota perbatasan Atambua ini, setiap hari harus berpeluh keringat mengayuh sepeda ondel miliknya dijalanan, menawarkan bantal yang sudah dijahit agar bisa dibeli.

Padahal sebenarnya dirinya mempunyai ketrampilan sebagai seorang tukang bangunan, namun ditengah kesulitan mencari pesanan, dirinya pun banting setir bekerja sebagai penjual bantal.

"Saya tukang, tidak ada kerja ya harus jual bantal kapuk ini. Sudah lama dari tahun 2002 jual keliling," ungkapnya saat disambangi RRI di kediamannya pada Minggu (5/7/2020).

Bapak 4 orang anak ini mengisahkan, terkadang kalau nasib sedang berpihak kepada dirinya, ada saja orderan kasur kapuk dengan membayar harga yang sedikit mahal hingga ratusan ribu. Andreas sangat bersyukur karena dengan lakunya kasur kapuk, dirinya tidak perlu repot-repot berkeliling jualan keluar kota.

"Kalau orang pesan di luar kota saya antar dong, ada yang minta antar banyak belasan bantal, ada juga kasur kapuk, pokoknya seragamlah,"  ucap Andreas.

Sementara di sisi lain menurut lelaki paruh baya ini, profesi yang sementara dijalani terkendala oleh bahan baku kapuk yang terkadang sulit didapatkan.

"Tapi pohon kapuk sekarang kurang, kalau ada beli, kupas bersihkan baru isi sarung dan jahit itu pekerjaan," terang dia.

Ia sendiri membeberkan bahwa harga bantal kepala yang dibuatnya dibanderol Rp35 ribu, bantal peluk Rp40 ribu sementara kasur dijual seharga Rp175 ribu. Semua jenis dijulal, namun harga yang dibadnerol tergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran.

"Kalau kasur masih untuk agak banyak. kalau bantal sedikit tapi yang penting kita bisa dapat makan ," tutupnya. (Foto: Ferdinandus Asy/RRI).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00