Begini Penyebab Ratusan TKA China Masuk Bintan

KBRN, Batam: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, melakukan rapat terbatas bersama dengan Pemerintah Provinsi Kepri, Pemerintah Kota Batam, dan para pengusaha di Nongsa, Batam.

Usai rapat, Menko Luhut mengatakan, topik yang dibahas selama rapat berlangsung antara lain seputar pembangunan industri smelter bauksit di Bintan, Kepulauan Riau.

"Proyek ini membutuhkan 20 ribu pekerja dengan tenaga ahli yang kini diambil dari Tiongkok (China) dan Taipei yang sudah berada di sana sebanyak 500 orang, sisanya akan datang lagi ribuan orang bertahap," kata Luhut di Nongsa Poin Marina (NPM), Batam, Kamis (2/7/2020).   

"Kami dari Bintan sudah melihat industri pengolahan bauksit menjadi alumina, ini proyek yang menurut saya sangat penting, karena kita akan mendapatkan produk hilirnya, apa yang kita dapat nanti bisa sampai kepada badan pesawat terbang, baju, bikin bungkusan dari aluminium, turunannya sangat banyak sampai kepada alat elektronik," imbuhnya.

Dikatakan, banyaknya jumlah tenaga kerja asing (TKA) pada tahap awal diperuntukkan membangun ketenagalistrikan hingga 2.800 Mega Watt.

Secara teknis, lanjutnya, industri berat ini memiliki teknologi tinggi, dengan komposisi pekerja 90 persen TKA dan 10 persen tenaga lokal, namun seiring berjalannya waktu dengan adanya transfer atau pemindahan kemampuan bidang teknologi di sana, maka jumlahnya akan didominasi pekerja Indonesia.

"Dengan tenaga asing sebanyak 1.800 pekerja atau 10 persen dari tenaga kerja lokal nantinya. Kalau pekerjaan bikin gedung, jalan dan lainnya itu 99.9 persen orang Indonesia," ujarnya.

Diungkapkan, Pemprov Kepri mulai melatih tenaga lokal dan membuat politeknik, didukung juga dengan aktivitas transfer teknologi dari tenaga ahli tersebut. Proyek ini sempat tertunda selama tiga bulan karena Covid-19. 

Ditempat yang sama, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, Indonesia memiliki bauksit nomor dua terbesar di dunia dengan kualitas nomor satu di Bintan.

"Kita bisa produksi alumina dari bauksit yang selama ini kita ekspor alumina, seperti Inalum itu hanya menghasilkan listrik yang murah tapi bahan baku pembuat aluminiumnya yakni alumina, itu diimpor seluruh negara, padahal Indonesia penghasil bauksit. Bauksit diproses menghasilkan alumina," ungkap Edhy.

Disisi lain, Edhy menambahkan, pembahasan pemerintah pusat dan Pemda di Batam juga membahas soal pariwisata, pembenahan pipa bawah laut, dan industri perikanan tangkap.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00