Terus Terjadi, Anak Pintar Terancam Putus Sekolah

Pelajar SMP di Bantul

KBRN, Yogyakarta: Para orang tua di Kabupaten Bantul merasa keberatan, penerapan syarat usia maksimal 15 tahun, dalam seleksi peserta didik baru tingkat SMP.

Wiyartini salah satu orang tua calon siswa, ditemui hari Selasa di Gedung DPRD Bantul menilai, kebijakan itu sangat tidak adil.

Putrinya bernama Refi Mariska yang mendapat nilai bagus, tidak diterima masuk SMP Negeri, karena terhalang syarat usia.

Sebagai orang tua Wiyartini menganggap, perjuangan anaknya belajar selama enam tahun di sekolah dasar berakhir sia-sia, ibarat mematahkan semangat belajar buah hatinya.

”Kok yang nilainya rendah malah bisa diterima di SMP 1 dan SMP 2, trus anak-anak itu keluhannya tidak mau sekolah kalau nggak suka sekolahannya,” kata Wiyartini.

Berharap mendapat solusi, Wiyartini sudah mengadukan persoalan syarat usia dalam PPDB kepada wakil rakyat.

Anggota DPRD Bantul Aryunadi berpendapat, seharusnya usia tidak membatasi hak siswa untuk mendaftar ke sekolah negeri.

”Untuk menentukan kuota itu jarak, kalau sudah penuh selesai, jaraknya sama kuota penuh baru umur,” ungkap politisi PDI Perjuangan itu.

Kebijakan batas usia dalam PPDB, sesuai regulasi dari kementerian terkait di tingkat pusat.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bantul, Isdarmoko, tidak bisa berbuat banyak.

”Jadi kalau terkait usia itu kan sudah menjadi ketentuan, tidak bisa kalau SMP negeri kok harus mengakomodir semuanya, kalau tidak diterima di SMP negeri kan ada MTs Negeri dan lainnya,” terangnya.

Dalam Peraturan Mendikbud Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP menyebutkan, maksimal usia siswa 15 tahun, terhitung pada tanggal 1 Juli tahun berjalan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00