Polusi Akibat PLTU-3-4, Warga Blokir Jalan

Polusi udara di area sekitaran PLTU 3-4 Nagan Raya, Aceh.(Dok.Ist)

KBRN Nagan Raya: Puluhan ibu ibu membawa anak melakukan pemblokiran badan jalan pengangkutan material galian C yang tidak jarang tumpah saat melintas. Itu terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3-4 di Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.

"Sudah banyak kali mobil yang jalan tidak disiram, kami setop pun enggak mau mereka berhenti. Ya, kami pagar saja jalannya biar tahu pihak perusahaan di dalam sana," kata Warni, seorang peserta aksi saat ditemui RRI di depan PLTU 3-4, Suak Puntong, Nagan Raya, Aceh, Rabu (3/6/2020).

Ternyata, menurut Warni, warga sekitaran area pembangunan komplek PLTU 3-4 Nagan Raya ini sudah lama dijanjikan relokasi tempat tinggal. Tapi, belum juga ada realisasi hingga hari ini. Ancaman kesehatan terdampak polusi udara dari aktivitas PLTU sungguh terjadi di area permukiman itu.

Bahkan, dari informasi yang  didapat RRI, selama enam tahun masa penawaran relokasi dijanjikan dari pihak PLTU 3-4 Nagan Raya. Sedangkan, dari pantauan RRI di lapangan, warga masih bermukim di sekitaran area PLTU 1-2, dan juga dekat pabrik batu bara. 

"Sudah sejak 2015 kami dijanjikan relokasi, tapi sampai sekarang kami masih di sini. Setiap saat (kami, red) hirup debu. Persoalan ganti rugi belum selesai, ditambah lagi pembangunan PLTU 3-4. Hidup kami benar-benar sudah sangat sekarat," ujar peserta aksi lain di lokasi demonstrasi.

Sebagian besar warga di daerah ini yang juga merupakan lintas Medan-Banda Aceh ini sudah sangat gerah melihat aksi ugal ugalan truk bermuatan penuh. Bahkan, mereka tidak menutup bagian atas material, sehingga berdampak pada saat cuaca cerah menjadi berdebu dan saat hujan menjadi becek.

Pimpinan kontraktor pekerja PLTU 3-4 dari perusahaan PT Perdana Dinamika Persada (PDP), Adi Irwansyah akhirnya bersuara hari ini  dengan menemui massa aksi. Adi mengklaim bahwa pekerjaan proyek mereka baru berjalan sekisar satu tahun. 

"Keluhan warga sudah kita terima. Mobil pengangkut material tidak boleh lagi bermuatan penuh, tidak boleh ngebut, wajib menutup bagian atas. Soal debu, akan kita siram secara rutin. Kalau ada pihak rekanan tidak mengindahkan akan disanksi," kata Adi kepada massa aksi.

Menyangkut dengan persoalan ganti rugi dan relokasi warga setempat kata Adi mengaku belum dapat bicara banyal.

"Perusahaan kami tidak begitu mengetahui (rencana ganti rugi relokasi, red). Karena berkaitan dengan perusahaan perusahaan lain dan yang bekerja lebih awal dari mereka," klaim Adi.

Dampak dari aksi ini sempat membuat jalan lintas Provinsi Medan - Aceh itu macet, truk terparkir di sebagian badan jalan sementara debu di kawasan ini sangat banyak, beruntung warga menggenakan masker di tengah pandemi covid-19.

Dalam suasana mediasi damai di lokasi tersebut juga turut serta aparat TNI dan Polri dari Nagan Raya, serta Camat Kuala Pesisir, warga berjanji akan terus melakukan aksi sampai semua janji dan tuntutan mereka dipenuhi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00