Sepinya Usaha Jasa Angkutan Air Kutai Barat

KBRN, Sendawar: Puntun Feri Penyebrangan, merupakan salah satu moda transportasi diandalkan masyarakat Kabupaten Kutai Barat (Kubar) untuk beraktivitas, atau hanya sekadar mengunjungi keluarga. Tentu dalam rangka silaturahmi, masih dalam mengisi momentum hari raya seperti Idul Fitri dan acara besar agama lainnya. Terutama, bagi warga bermukim di pesisir Sungai Mahakam.

Namun, saat perayaan Idul Fitri 1441 Hijriah tahun 2020 ini, aktivitas masyarakat menggunakan sarana transportasi sungai menurun drastis. Apalagi, bila dibandingkan Hari Raya Idul Fitri tahun sebelumnya. Wabah Virus Corona (COVID-19 membuatnya berbeda.

Salah satu pengusaha Kapal Feri Penyeberangan di Kampung Long Iram Kota, Kecamatan Long Iram, Veranika menyatakan aktivitas kendaraan penumpang saat Lebaran kali ini merosot hingga 50 persen.

Kondisi Feri Penyebrangan di Kampung Tering Lama Ulu

“Kalu dibandingkan tahun lalu, beda jauh, sepi sekali (sekarang, red). Mungkin karena ada pembatasan akibat Corona ini kan, ada portal di pintu masuk kampung, di sana diperiksa. (Memang, red) yang boleh masuk, ya masuk. Yang enggak boleh, ya disuruh balik. Turunnya 50 persen mas, jauh sekali untuk lebaran kali ini, hari hari biasa juga jauh merosot," kata Veranika kepada RRI Sendawar di Kutai Barat, Kalimantan Timur, Kamis (28/5/2020).

Penurunan pendapatan usaha jasa transportasinya itu juga diakui berdampak pada operasional.

"Saya ada dua puntun (kapal, red), yang jalan cuma satu. Anak buah saya saja, biasanya kerja tiga orang, sekarang hanya dua orang. Pertama, karena sepi, kedua kasihan juga pembagian hasilnya,” ucap Veranika.

Kondisi yang sama juga dialami Ber, pelaku usaha jasa peneyberangan Feri di Kampung Tering Lama Ulu, Kecamatan Tering.

"Hanya berkisaran 20-30 unit (jas angkut kendaraan, red) setiap harinya. Jika dibandingkan tahun lalu, kendaraan yang lalu lalang tidak kurang dari 50 unit setiap harinya," ungkap Ber.

Ber mengaku, kondisi itu merupakan dampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan oleh aparat kampung setempat demi mengantisipasi menyebar luasnya wabah Covdi-19.

Hal itu dibenarkan Lukas salah satu warga Kampung Tering Lama Ulu yang juga pengguna moda transpotasi tersebut. Menurut Lukas, PSBB memang dilakukan oleh Pemerintah Kampung sesuai kesepakatan bersama seluruh warga, dan itu demi keamanan bersama.

Jumlah Penumpang Puntun Feri Penyebrangan di Kubar Turun Drastis

“Ya itu betul aja, dan bagus juga dilakukan kayak gitu. Soalnya, kita juga menjaga kampung, takut ada orang asing yang kita tidak tahu asalnya dari mana. Ya, waspadalah. Bahkan, kalau leleq pentolpun kami larang masuk kampung, harus asli KTP dari kampung. Jadi, enggak boleh orang luar jualan di kampung demi keamanan bersama,” kata Ber.

Ia berharap agar semua warga saling memahami kondisi sekarang ini. Saling mengingatkan dan senantiasa mentaati protokol kesehatan seperti dianjurkan pemerintah supaya pandemi ini segera berakhir dan aktifitas masyarakat bisa pulih kembali menjadi doanya.

Seperti diketahui, untuk menggunakan Feri penyeberangan di wilayah tersebut, kendaraan roda dua atau motor dikenakan biaya sebesar Rp5 ribu, mobil Rp25 ribu, mobil pick up bermuatan Rp75 ribu (PP) dan truk sebesar Rp800 ribu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00