Preases Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa Maumere Minta Maaf Kepada Orang Tua Dan Masyarakat

KBRN, Ende : Preases Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa Maumere RD. Deodatus Du'u meminta maaf kepada orang tua dan masyarakat secara keseluruhan atas tindakan tidak menyenangkan oleh socius atau pendamping terhadap 77 siswa kelas VII di lembaga panti pendidikan calon Imam dengan menyuruh makan kotoran manusia.

Permintaan maaf disampaikan setelah kasus yang menimpa 77 siswa kelas VII Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa menjadi viral sehingga mencoreng dunia pendidikan.

Kepada RRI , Preases Seminari Menengah Santa Maria Bunda Segala Bangsa Maumere , RD.Deodatus Du,u Kamis (27/02/2020) menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya untuk segenap anggota masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan khususnya kepada orang tua wali siswa , keluarga serta semua pihak yang tersayat hatinya oleh tindakan pendamping asrama terhadap siswa yang selama ini menempa pendidikan di lembaga pendidikan calon Imam tersebut.

Menurut Deodatus Du'u untuk dua orang pembina yang melakukan penyiksaan , pihak sekolah mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan mereka dari sekolah namun mereka masih diberi kesempatan untuk mengikuti ujian nasional mengingat mereka merupakan siswa kelas IX yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional.

"Kami tidak akan menolerir setiap tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh pembina asrama," ujarnya. 

Salah satu orang tua siswa kelas VII yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan, Albertus Jao Ndu mengatakan sebagai orang tua sangat menyesal atas tindakan yang terjadi pada siswa kelas VII disekolah itu namun kedepan dirinya berharap para Imam benar-benar menerapkan fungsi pengawasan secara baik agar segala tindakan kekerasan bisa dihindari.

"Siswa yang dibina di lembaga pendidikan itu merupakan calon imam sehingga hukum cinta kasih yang dikedepankan dalam membina para seminaris agar kelak apabila sudah menjadi imam bisa menerapkan hukum cinta kasih dan berbagai kasih dengan sesama dalam tugas pelayanan mereka," harapnya.

Menurut Alber  hasil pertemuan pihak seminari bersama orang tua , Lembaga pendidikan itu berjanji akan membenahi sistem pembinaan yang ada untuk meminimalkan tindakan itu terjadi ke depannya sehingga dirinya tetap mempertahankan anaknya untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan Seminari tersebut. Selain itu lembaga pendidikan seminari juga perlu menambah tenaga imam karena saat ini jumlah imam sangat kurang mengingat jumlah siswa secara keseluruhan mencapai 400 siswa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00