Kasus Pembakaran Lahan, Kades Asir-Asir Tak Kuasa Bela Warganya dengan Hukum Adat

KBRN, Takengon : Seorang warga Sesa Asir-Asir, Kecamatan Luttaawar, Aceh Tengah, tersandung kasus pembakaran lahan seluas 8 hektar yang terjadi pada Sabtu 8 Februari 2020 lalu. 

Kepala Desa atau Reje Asir-Asir, Ampera saat diminta tanggapannya terkait pelaku pembakaran lahan untuk dilakukan peradilan adat, mengaku tidak dapat berbuat banyak.

Menurut Ampera, dirinya sempat memiliki inisiatif untuk mengadili MY di desa. Tetapi, pada saat kejadian aparat keamanan terdiri dari TNI/Pori dan Polhut juga ada di lokasi. Sehingga warganya itu langsung dibawa ke Polres Aceh Tengah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.

Baca juga: 8 Hektar Lahan di Desa Asir-asir Hangus Dilalap si Jago Merah

"Enggak bisa ngomong lagi, kemarin kan mau kitab tahankan disini, cuman mereka karena di pres dari atas, mereka ngotot harus dibawa ke Polres. Karena gini pas kejadian mereka juga turun kesitu, Kepolisian dan Aparat TNI, itulah, jadi kami berusaha enggak bisa, harus di proses," ujar Kepala Desa Asir-Asir.

Ditambahkan Ampera, peraturan peradilan adat di desanya juga hingga saat ini belum ada mengatur tentang pembakaran lahan dan hutan.

Saat ini, tersangka MY ditahan di Polres Aceh Tengah. Dia diancam 10 tahun penjara dan denda Rp 10 milyar.

Baca juga: Pembakar Lahan di Aceh Tengah Diancam 10 Tahun Penjara dan Denda Rp 10 Milyar

Kapolres Aceh Tengah AKBP Hairajadi melalui Kasat Reskrim Polres Aceh Tengah Iptu Agus Riwayanto Diputra, sebelumnya menyampaikan, polisi selain mengamankan MY, juga menyita barang bukti berupa satu buah korek api yang digunakan untuk membakar lahan serta baju yang digunakan saat kejadian.

Tambah Kapolres, lahan yang terbakar seluas 8 hektar di pegunungan Asir-asir merupakan kawasan Hak Pengguna Lain (HPL).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00