Kasus Zakia Bocah Korban Pemerkosaan, Orang Tua Harus Intens Awasi Anak Bermedsos

KBRN, Cimahi : Kasus kematian Zakia Nur Solihatin, yang merupakan korban penganiayan dan perkosaan di Kampung Warung Muncang, Kelurahan Cipageran, Cimahi Utara, Kota Cimahi, 29 Januari 2020 lalu menimbulkan keprihatinan dari banyak pihak. 

Pihak kepolisian sudah berhasil mengungkap kasus tersebut dan berhasil menangkap dua orang pelakunya. Dari pemeriksaan penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Cimahi terungkap, korban Zakia mengenal salah seorang pelakunya bernama Nandi (17) di akun Facebooknya.

Sebelum kejadian Zakia melakukan komunikasi dengan Nandi melalui pesan masesnger di HP ibunya yang sedang dirawat di RSUD Cibabat, dan berjanji ketemuan di sana.

Setelah itu, Zakia diajak pergi oleh tersangka Nandi ke Cipageran dengan mengendarai sepeda motor, yang.kemudian menjadi awal malapetaka yang dialaminya hingga menjadi korban penganiayaan oleh tersangka Nanang (27)  dan diperkosa sebanyak 3 kali.

Keprihatinan itu salah satunya diungkap Lurah Kelurahan Utama Kecamatan Cimahi Selatan Neneng Mastoah,  kepada  RRI saat berkunjung kerumah duka di Baros Utama Kota Cimahi, Rabu (13/2/2020).

Neneng menyampaikan duka cita yang mendalam atas kejadian yang menima Zakia Nur Solihatin dan  kejadian yang dialami oleh Zakia merupakan pembelajaran bagi kita semua agar kedapannya tidak terulang kembali.

"Orang tua harus bisa merangkul anak, dan pergaulan anak agar selalu dipantau, apabila anak atau siapapun akan berangkat kemanapun juga untuk terus berkomunikasi sehingga keluarga bisa mwngawasi dan mengantisipasi. Mudah-mudahan kedepannya jangan sampai lagi terulang kejadian hal seperti ini," ujarnya.

Menurut  Neneng,  keluarga harus lebih ketat dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya diluar serta lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan bisa mengantisipasi dampak negatifnya.

Sekarang ini kata Neneng, pengaruh media sosial terhadap perkembangan sosial anak sangat besar sehingga anak harus diarahkan kepada kegiatan positif dan selalu dipantau.

"Mental anak harus diisi dengan kegiatan keagamaan dan mengisi  keimanan dengan kegiatan pengajian agar bisa menjadi benteng bagi mereka, sehingga mereka bisa menjaga diri dalam menghadapi perkembangan sosial ditengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00