27 Ekor Penyu Mati Mendadak di Bengkulu, Belum Jelas Penyebabnya

KBRN, Bengkulu : Sebanyak 27 ekor penyu ditemukan mati. Penyebab kematian puluhan penyu di wilayah pesisir pantai Bengkulu, termasuk di dekat PLTU Batu Bara Teluk Sepang, Kota Bengkulu, hingga kini masih belum diketahui secara pasti.

Padahal sebelumnya pihak Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu juga sudah mengambil sampel penyu yang sudah membusuk. Bahkan pihak Balai Besar Penelitian Veteliner di Bogor dan laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB), diduga belum bisa mengeluarkan hasil uji laboratorium dan otopsi, untuk mengetahui penyebab kematian sebanyak 27 ekor hewan yang dilindungi dari data Kanopi Bengkulu tersebut. 

Dokter hewan BKSDA Bengkulu, Erni Suyanti Musabine mengatakan, pihak laboratorium kesulitan melakukan pemotongan mikrokom atau pemotongan secara tipis bagian penyu untuk dilakukan pemeriksaan menggunakan mikroskop. Belum lagi sampelnya sendiri juga sudah mati lebih dari 2 atau 3 hari, sehingga kemungkinan lisis, atau pecah serta rusaknya integritas membran sel dan menyebabkan keluarnya organel sel. Begitu juga untuk pemeriksaan histopat, kemungkinan agak susah, tetapi pihaknya tetap berusaha melakukannya.

“Sebanyak 4 sampel penyu yang dikirimkan ke 2 laboratorium itu adalah penyu yang saat ditemukan mati, tidak terdapat sampah pada saluran pencernaannya. Sampel penyu yang dikirimkan itu saluran pencernaannya dalam kondisi normal. Hal itu, untuk memastikan apakah kematian puluhan penyu secara mendadak di perairan Pantai Teluk Sepang itu sejak beberapa bulan terakhir, ada kaitannya atau tidak dengan dugaan pencemaran limbah air bahang PLTU Bengkulu,” terangnya, Selasa, (14/1/2020).

Selain itu dijelaskan, untuk mengetahui apakah penyu yang mati ini tercemar logam berat atau tidak, pihak BKSDA Bengkulu juga mengirimkan bagian dalam perut penyu dalam kondisi terbungkus, seperti saluran pencernaan, hati, ginjal dan seluruh bagian usus untuk diteliti.

"Itu upaya yang sudah kita lakukan, dan tidak bisa intervensi pihak laboratorium. Saya tahu persis karena limbah itu banyak yang harus diperiksa jadi butuh waktu. Kami masih menunggu dari pihak laboratorium," paparnya.

Senada dengan itu, Kepala BKSDA Bengkulu, Donald Hutasoit menyebutkan, pihaknya tidak bisa memaksakan Balai Besar Penelitian Veteliner di Bogor dan laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk segera mengeluarkan hasil penelitian terhadap sampel penyu yang dikirimkan.

Apalagi diakui, pengujian sampel untuk mengetahui apa penyebab kematian penyu ini bukan sesuatu hal yang mudah. Artinya, ada banyak rangkaian pemeriksaan dan penelitian yang harus dilakukan terhadap sampel yang dikirimkan.

"Uji ini tidak mudah, kemudian laboratorium tempat kita kirimkan ini juga menangani seluruh Indonesia. Kita sudah tanyakan tapi tidak bisa kita paksakan harus 2 hari selesai, meski kita menginginkan secepatnya. Ini sudah diluar kontrol kita dan hanya bisa bertanya. Kemudian juga diminta apapun hasilnya nanti bisa diterima dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, secara terpisah, Anggota Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu Edwar Samsi atas nama lembaga legislatif berencana akan memanggil pihak PLTU, BKSDA serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi, terkait hasil penelitian penyebab kematian Penyu tersebut.

“Itu data hasil uji lab belum disampaikan kepada kita, oleh karena itu dalam waktu dekat pihak terkait akan dipanggil, untuk dimintai keterangannya," ujar Politisi PDI Perjuangan ini singkat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00