Gubernur Jateng Berharap Stunting di Jateng Dapat Diatasi

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: ANTARAnews)

KBRN, Jakarta: Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, berharap penyakit stunting atau gizi buruk di wilayahnya dapat dicegah atau bahkan dihilangkan.

Untuk itu, Ganjar menyampaikan, semua pihak harus saling bekerjasama, mulai dari pihak Pemerintah Provinsi, Dasawisma, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga PKK hingga Babinsa TNI dan Babhinkamtibmas Polri untuk membantu. Dengan semua lini bergerak bersama, maka data bisa didapat dengan valid dan kebijakan yang diambil tepat sasaran.

“Kalau gerakan ini bisa, masing-masing dari kandungan bermasalah bisa kita intervensi. Tindakan pertama ini penting agar stunting bisa dicegah,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima RRI.co.id, Jakarta, Sabtu (21/5/2022).

Seperti diketahui, Ganjar telah membentuk tim percepatan penurunan angka penyakit stunting di wilayahnya. Tim yang terdiri dari berbagai sektor seperti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Kesehatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), PKK dan pihak lainnya itu dikukuhkan Ganjar di Patra Convention Hotel, Semarang, Jateng, Kamis (19/5/2022).

Stunting masih menjadi problem di Jawa Tengah. Maka tim ini saya harap bisa mempercepat penurunan stunting. Setelah dilantik, saya minta harus segera kerja,” ujar Ganjar. 

Ganjar mengatakan, kerja paling utama dari tim penurunan stunting adalah mendata ibu hamil. Jawa Tengah sudah memiliki program ‘Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng)’ yang bisa digunakan untuk membantu proses pendataan itu.

“Seluruh orang hamil harus didata, dilakukan assessment apakah mereka punya masalah atau tidak. Kalau bermasalah, langsung dilakukan tindakan intervensi,” katanya.

Menurut teori, lanjut Ganjar, dari semua ibu hamil, terdapat 20 persen yang bermasalah. Maka, tugas utama tim ini adalah mencari 20 persen itu untuk dilakukan tindakan.

“Selain tindakan intervensi, kandungan bermasalah ini juga harus didampingi. Bisa dari BKKBN, pemerintah, mengajak perguruan tinggi dengan program one student one client dan lainnya,” jelas Ganjar kembali. 

Setelah pendataan selesai, lanjut Ganjar, maka kerja kedua dari tim ini adalah edukasi pada masyarakat. Banyak hal yang harus diedukasi, termasuk persiapan pernikahan, soal gizi, kesejahteraan, akses kesehatan, dan lainnya.

“Dengan tim ini, saya berharap pencegahan stunting bisa dilakukan makin dini. BKKBN juga sudah punya program, tiga bulan sebelum nikah mereka dicek kesehatannya. Kalau semua sehat, Insya Allah bisa mencegah stunting,”pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar