Bersama Tangani Ancaman Krisis Air dan Deforestasi

Masyarakat melakukan proses bersih-bersih sumber air di Desa Adat Buahan, Bali, Jum

KBRN, Jakarta: Yayasan Puri Kauhan Ubud dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) menggelar kegiatan bersih-bersih sumber air dan penanaman pohon di Desa Adat Buahan, Bali, Jum'at (13/5/2022). 

Kegiatan bersih-bersih sumber air atau 'Mareresik Patirtan' dan penanaman pohon serangkaian Sastra Saraswati Sewana "Toya Uriping Bhuwana, Usadhaning Sangaskara", juga diikuti kelompok masyarakat adat, dan pecinta alam, digelar di dua lokasi yakni di Pura Tirta Petak Danu Kuning dan Pura Panglepasan Danu Gadang, Desa Adat Buahan. 

"Kegiatan untuk memastikan ketersediaan sumber daya alam yang baik untuk generasi penerus," kata Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana dalam siaran pers diterima RRI.co.id, Sabtu (14/5/2022). 

Ari Dwipayana mengatakan, upaya melestarikan alam untuk keberlangsungan generasi penerus, tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Krisis air dan deforestasi atau penggundulan hutan terus 'menghantui', menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama-sama. 

"Pemuliaan air dan hutan mesti mendapat perhatian bersama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat dan masyarakat. Permasalahan lingkungan seperti krisis air dan deforestasi, merupakan tantangan berat ke depannya," ungkap Ari Dwipayana.

"Sehingga pihak kami (yayasan) konsen melakukan kegiatan ini sebagai wujud kepedulian menjaga lingkungan dan membayar hutang budi kepada alam," lanjut Ari yang juga Koordinator Staf Khusus Presiden ini. 

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang VI Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat KAGAMA, Anak Agung Gede Putra mengatakan, partisipasi KAGAMA dalam mendukung penanaman pohon, penebaran bibit dan pembersihan lingkungan, diharapkan dapat mengetuk hati masyarakat untuk terlibat secara aktif dan berkelanjutan dalam aksi menjaga lingkungan. 

"Harapannya ini menginspirasi masyarakat semakin banyak sehingga punya kepedulian mengenai sumber-sumber air dari hulu sampai hilir," kata dia. 

Melihat aksi nyata menjaga ekosistem alam tersebut, kelompok masyarakat adat dari Bendesa Adat Buahan, I Made Antara menyambut baik. Ia menyatakan, kegiatan tersebut, sejalan dengan konsep adiluhung warisan leluhur di Buahan. 

"Sumber daya alam dan nilai lokal yang dimiliki di Buahan harus selalu dilestarikan. Pelestarian lingkungan yang dilakukan Yayasan Puri Kauhan dan KAGAMA, sehingga patut dijadikan contoh oleh organisasi/komunitas lainnya," tegasnya. 

Perlu diketahui, dalam kegiatan tersebut terdapat ratusan bibit pohon yang diserahkan untuk ditanam bersama-sama dengan masyarakat, yang terdiri dari 200 batang pohon alpokat, 100 pohon jambu kristal, 150 pohon kemiri, dan 150 pohon nagasari dan spesialnya terdapat pohon bodi dengan tinggi sekitar 4 meter yang turut ditanam di Pura Panglepasan. 

Tidak hanya itu, terdapat pula seperangkat wastra pelinggih untuk kedua pura dan 4 tong sampah serta penebaran 10.000 bibit ikan nila yang diserahkan Yayasan Puri Kauhan Ubud dan KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada) untuk pelestarian dan ekosistem alam di lingkungan masyarakat setempat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar