Ribuan Babi di Kalteng Mati Akibat ASF

KBRN, Palangka Raya: Penyakit Demam Babi Afrika (ASF) telah menyebabkan kematian lebih dari 2.300 ekor babi di Kalimantan Tengah.

Fungsional Medik Veteriner Ahli Madya Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah, drh. Nina Ariani, mengatakan dari data sampai tanggal 25 November  2021 tercatat 2.353 ekor babi di Kalteng mati akibat ASF.

Menurutnya, angka kematian babi akibat ASF diprediksi jauh lebih banyak karena ada peternak yang jauh sehingga sulit untuk melaporkan kepada petugas.

“Enam kabupaten/kota terdampak sudah melakukan penyuntikan serum konvalesen ASF. Sama seperti covid sifatnya hanya untuk menjaga antibodi bukan obat yang bisa mengobati ASF. Serum konvalesen ASF sifatnya sama seperti serum konvalesen pada penyakit covid. Memang dia bukan obat dewa yang jelas bisa menyembuhkan. Tidak. Kita hanya mempertahankan bagaimana caranya babi yang masih ada di kandang, atau wilayah tertular ini kita jaga supaya tetap hidup. Harapannya seperti itu imunitasnya lebih kuat untuk melawan virus ASF itu,” ujarnya kepada sejumlah media, Senin (29/11/2021).

Enam kota/kabupaten yang terdampak penularan virus Demam Babi Afrika yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Gunung Mas, Pulang Pisau, Katingan, Murung Raya dan Kapuas.

Dihubungi terpisah, Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Palangka Raya, drh. Eko Hari Yuwono, mengatakan penularan virus ASF di Kota Palangka Raya masih terus berlanjut. Menurutnya, virus ASF bertahan sampai dua bulan di lingkungan seperti air dan alat-alat sekitar kandang.

Upaya penanganan virus ASF yakni dengan menyarankan kepada peternak babi untuk menjaga kebersihan dan sanitasi kandang (biosekuriti). Menurutnya, faktor lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap pencegahan penularan ASF.

Selanjutnya, untuk mengantisipasi cepat merebaknya virus ASF pada populasi babi di satu kandang, petugas melakukan penyuntikan serum konvalesen. 

“Beberapa memang kalaupun kita suntik serum konvalen cuma kalau biosekuritinya tidak bagus virusnya masuk lagi ke tubuh hewannya ya gak akan bekerja efektif, tetap aja dia akan terinfeksi dan bisa mengakibatkan kematian. Kan serum konvalen ini kan kekebalan pasif dimana dia hanya membantu menetralisir virus yang sdh ada dalam tubuh ternak babi itu sendiri,”  kata drh. Eko yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kalteng.

drh. Eko Hari Yuwono menjelaskan ASF merupakan penyakit pada babi yang cepat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen. Sementara, serum konvalesen ASF hanya bisa membantu 52 persen babi yang sehat dari daerah yang terpapar. (imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar