Syarat Terbang Kru Pesawat Lebih Mudah, Tak Perlu PCR

KBRN, Medan: Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengkritisi kebijakan yang mewajibkan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) bagi penumpang pesawat. Sebab, syarat terbang itu tidak berlaku adil untuk kru pesawat.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumut Abyadi Siregar mengatakan, syarat terbang bagi kru pesawat ternyata jauh lebih gampang dibanding penumpang.

“Bagi awak pesawat, cukup rapid tes antigen yang biayanya cuma sekitar Rp100 ribu. Sedangkan masyarakat yang akan menggunakan jasa transportasi udara, wajib melakukan PCR yang harganya sangat mahal,” kata Abyadi di Medan, Kamis (28/10/2021).

Abyadi menuturkan, hal itu diketahui dari hasil inspeksi mendadak (Sidak) tim Ombudsman RI Perwakilan Sumut ke Bandara Internasional Kualanamu Medan, Rabu (27/10/2021). 

Tim Ombudsman RI Perwakilan Sumut tersebut diterima langsung Kepala Otorita Bandar Udara Wilayah-II Agustono, Executive General Manager (GM) PT Angkasa Pura-II (Persero) Bandara Internasional Kualanamu Heriyanto Wibowo dan Koordinator KKP Bandar Udara Kualanamu dr Jimmy.

Abyadi menjelaskan, dalam Sidak tersebut, tim Ombudsman RI Perwakilan Sumut mendapatkan keterangan bahwa, awak pesawat dari dua maskapai penerbangan, hanya menggunakan rapid antigen ketika akan terbang.

Hal ini bukan tanpa alasan. Dalam Surat Edaran Menteri Perhubungan No 88 tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara pada Masa Pandemi Covid-19, disebutkan bahwa personel pesawat yang akan bertugas, wajib menunjukkan hasil negative pemeriksaan PCR atau rapid tes antigen. 

“Artinya, kru pesawat dibenarkan hanya menggunakan rapid tes antigen sebagaimana diamanatkan dalam SE Menhub No 88 tahun 2021,” jelasnya.

Menurut Abyadi, isi SE Menhub No 88 tahun 2021 yang membenarkan kru pesawat menggunakan rapid tes antigen sebagai syarat terbang, kurang tepat. Sementara masyarakat sebagai penumpang, diwajibkan menunjukkan surat keterangan PCR dengan hasil negatif.

Alasannya, lanjut Abyadi, karena antara awak pesawat dan penumpang, sebenarnya sama-sama memiliki risiko tinggi tertular atau menularkan covid. 

“Bahkan risiko awak pesawat untuk tertular dan menularkan Covid-19 lebih tinggi. Karena selama dalam menjalankan tugas terus berinteraksi dengan penumpang dalam ruang tertutup yang tidak bebas udara,” kata Abyadi.

Apalagi, lanjut Abyadi, hasil rapid tes antigen bagi kru pesawat tersebut berlaku selama tujuh hari. Selama surat keterangan rapid tes antigen itu masih berlaku, tidak ada dilakukan validasi.

“Sementara selama tujuh hari masa berlaku, para kru pesawat bebas beraktivitas di luar jam kerja. Artinya, risiko awak pesawat untuk tertular dan menularkan covid itu juga sangat tinggi,” katanya.

Sehubungan dengan itu, Abyadi Siregar menyampaikan agar sebaiknya tidak ada perbedaan penerapan syarat terbang antara kru pesawat dengan penumpang. Karena antara kru pesawat dengan penumpang memiliki risiko yang sama dalam penularan Covid-19.

Bahkan menurut Abyadi, risiko awak pesawat justru lebih tinggi untuk tertular dan menularkan virus covid.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00