Sejarah Masjid Agung Asy-Syuhada' Venue MTQ Jatim

KBRN, Pamekasan: Masjid Agung Asy-Syuhada' menjadi salah satu venue pelaksanaan lomba pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-29 tingkat Provinsi Jawa Timur, yang akan digelar mulai 2 sampai dengan 11 November 2021.

Menilik catatan sejarah, Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan bermula dibangun di tempat yang sama yaitu tempat  Masêghit Rato atau masjid raja karena yang mendirikan masjid yang mula-mula tersebut adalah Raja Ronggosukowati.

Raja Ronggosukowati memang merupakan raja Pamekasan yang pertama beragama Islam. Dengan demikian masjid yang ada saat ini merupakan pengembangan dari  Masêghit Rato  tersebut. (Nama masèghit Rato sebenarnya diberikan kepada masjid yang dibangun oleh raja). 

Masjid Raja ini kemudian direnovasi oleh para Bupati / penguasa setelah masa-masa berikutnya. Setelah Madura ditaklukkan Mataram, Sultan Agung memerintahkan penggusuran Masjid Raja dan di atas lokasinya tersebut dibangun kembali bentuk masjid yang umum di Pulau Jawa saat itu yaitu Masjid Langgar Mataram dan telah disetujui Sultan Agung yaitu bangunan tajung tumpang tiga bagaikan bangunan meru tempat peribadatan masyarakat agama Budha.

Perubahan ini dilaksanakan ketika pemerintahan Adipati yang  bernama Raden Gunungsari bergelar Adikoro I yang memerintah setelah ayahnya (Pangeran Celleng atau Megat Sekar yang memerintah Pamekasan setelah perang puputan / penyerangan Mataram pada tahun 1624.) dipindah oleh Mataram untuk mewakili Mataram memerintah Sumenep  (Adikoro I ini adalah putera dari Pangeran Celleng, atau Megat Sekar, putera dari Pangeran Purboyo, putera dari Ronggosukowati) tepatnya pada tahun 1672.

Kemudian Mataram menyerahkan Madura Timur (Pamekasan dan Sumenep) kepada VOC.Pada saat VOC jatuh pada Tahun 1799, semua daerah koloninya diserahkan kepada Pemerintah Belanda di Negeri Belanda  termasuk  daerah Madura.

Kemudian jajahan VOC tersebut oleh Belanda dinamakan Hindia Belanda dan Madura termasuk di dalamnya. Selama itu hingga tahun jatuhnya VOC Masjid Pamekasan belum direnovasi baik fisik dan tatanan pemeliharaannya atau ketip-ketipnya.

Namun semula Masjid Raja (1530) atau masjid renovasi tahun 1672 dilakukan cuma sekedar untuk syahnya shalat Jumat untuk menampung jamaah sebanyak 40 orang menurut mazhab As-Syafii.

Pada  pemerintahan Bupati R. Abd Jabbar gelar R. Adipati Ario Kertoamiprojo, yang memerintah dari tahun 1922 s/d 1934 Masjid rehap tahun 1672 tersebut diperluas ke samping dan ke depan yang demikian karena makin banyaknya jamaah khususnya saat mendirikan shalat Jumat dan pada hakikatnya masjid sedang diarahkan untuk menjadi masjid jamik Kota Pamekasan. 

Pada tahun 1804 Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda mengangkat saudara dari Sultan Bangkalan yang bernama Abdul Latif Palgunadi sebagai Bupati Pertama Hindia Belanda  di Pamekasan.  

Tepatnya pada tanggal 10 Nopember 1804 yang kemudian dikukuhkan dengan SK Tanggal, 27 Juli 1819 sebagai Panembahan Pamekasan dengan gelar Panembahan Mangkuadiningrat. Sejalan dengan pengukuhan tersebut Pemelihara masjid atau ketip masjid dipercayakan kepada Pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Panembahan Pamekasan dengan pangkat Tumenggung yang ditempatkan di tanah milik Pemerintah Panembahan Pamekasan di sekitar masjid sebagai perluasan dari Kampung Masèghit (kampung Masjid)  yang sudah ada yang saat ini masih berbekas di Kampung Tumenggungan.  

Namun kemudian pada tahun 1939, saat Pamekasan diperintah oleh Bupati R. A. Asiz (R. Abd Azis (SIS)  berkuasa dari tahun 1939-1942) atas anjuran Gubernur Jawa Timur saat itu yaitu van der Plaas, masjid rato yang telah beberapa kali mengalami renovasi tersebut dirombak total dan di atasnya di bangun masjid style Walisongo yaitu segi empat beratap tajung tumpang tiga.

Tetapi  masjid yang dibangun masa pemerintahan Bupati R. A. Abdul Azis ini tidak sepenuhnya menurut style walisongo, sebab tidak memiliki serambi. Bahkan Tiang agungnya terdiri dari 16 batang tiang bukan empat. Tiang sebanyak itu untuk menunjukkan bahwa masjid ini dibangun di atas tanah masjid yang mula-mula yaitu Masêghit Rato yang dibangun pada abad Ke-16.

Setelah renovasi pada tahun 1939 yang diresmikan  pada tanggal 25 Agustus 1940 masjid ini lalu dinamakan Masjid Jamik Kota Pamekasan dengan dua buah menara kembar di kanan-kiri masjid, menara setinggi 20 meter.

Nama masjid jamik ini bertahan hingga tahun 1980, bahkan tidak sedikit penduduk Pamekasan yang menyebutkan demikian hingga saat ini.

Pada tahun 1980 masjid ini diperluas ke depan sejauh lima meter. Tambahan ini merupakan serambi dan bentuk depan masjid kemudian seperti  masjid  Belimbing di Kota  Malang. Penambahan ini dilakukan atas perintah Bupati Pamekasan, Mohammad Toha yang memerintah pada tahun 1976 sampai dengan tahun 1982.

Dengan demikian hasil Renovasi ini membuahkan masjid ini memiliki serambi yang tertutup dan perubahan ini bisa diterima karena masjid-masjid di jaman walisongo semuanya memiliki serambi. 

Bangunan kantor Takmir Masjid Agung Asy-Syuhda Kabupaten Pamekasan tahun 1939 bertahan hingga renovasi tahun 1995. Namun kolam bundar untuk mengambil air wudhu sudah tergusur dan pengambilan air wudhu ditempatkan di bagian utara depan menara.

Sebagaimana tampak pada gambar, serambi Masjid Jamik Kabupaten Pamekasan hasil renovasi tahun 1980 terkesan menyerupai bagian depan Masjid Blimbing Kota Malang. Selain dari itu untuk mengenang para Syuhada’ yang syahid pada waktu Serangan Umum pada tanggal 16 Agustus 1947 yang dilakukan oleh para pejuang Republik Indonesia di Madura terhadap pendudukan serdadu Belanda di kota Pamekasan. Mereka menduduki kota sejak tanggal 5 Agustus 1947 dan serangan tersebut sekaligus sebagai pernyataan kepada Bangsa Indonesia bahwa Madura belum ditaklukkan sepenuhnya oleh Belanda yang sebelum menyerang Madura pada tanggal 4 Agustus 1947 Belanda telah sesumbar akan menaklukkan Madura dalam satu hari saja.

Pada serangan umum tersebut tidak sedikit dari serdadu Belanda tewas dan sempat pertahanan serdadu Belanda  dilumpuhkan dan mereka mundur keluar kota ke arah selatan tidak kurang selama 5 jam mereka berada di luar kota  sambil menunggu bantuan dari Surabaya.

Setelah bantuan datang baru serdadu Belanda   tersebut kembali memasuki kota yang telah dikosongkan oleh para  pejuang. Para syahid dari pasukan TNI dan Kelaskaran seperti Sabilillah, Hisbullah dan Pesindo banyak yang gugur tidak kurang dari seribu lima ratus orang dari mereka yang datang menyerang sekitar lima puluh ribu prajurit yang terdiri dari TKR, dan lascar Sabilillah, Barisan pemberontak, Hisbullah dan Pesindo yang datang dari seluruh Madura. (keterangan salah seorang imam masjid yang menyebut sebagai saksi mata).

Namun dalam catatan yang lebih akurat berdasarkan penelitian para pelaku serangan umum tersebut terdiri dari dua kompi Tentara, satu kompi Brimob dan 1000 orang dari badan-badan perjuangan sebagaimana disebutkan di atas. Dari sekian penyerang ada pilihan yang gugur sebagai pahlawan.

Mereka yang gugur, semuanya dikubur di depan Masjid Jamik sebelah sisi utara dan kemudian di situ didirikan monumen Taman Makam Pahlawan (TMP).

Namun kemudian di tahun 1974 para Syuhada yang terkubur di Taman Makam Pahlawan tersebut seluruhnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan di Jalan Panglegur seperti adanya saat ini.

Sebagian bekas taman makam pahlawan di depan masjid tersebut bagian tepi barat sudah menjadi Jalan Masigit setelah  ada pelebaran jalan depan masjid pada tahun 2004.Pada tahun 1985 oleh Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan, Masjid   kembali mendapat renovasi berupa pelebaran ke samping kanan dan kiri sejauh lima meter dengan jalan menggusur tempat untuk berwudhu’ yang kemudian tempat air wudhu tersebut dipindah ke bagian depan sebelah utara.

Nama masjid kemudian ditambah dari Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan.

Pada September tahun 1995 di jaman pemerintahan Bupati Drs. H. Subagio, M.Si Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan direnovasi total kembali. Secara total Masjid dibangun dengan seluruhnya cor beton.

Karena berada di tepi sungai yang rawan longsor  maka digunakan pasak bumi yaitu paku beton sepanjang 22 meter tertancap di bumi dasar mesjid sebanyak 360 batang dan setiap pasak dihubungkan dengan cor beton pula sehingga Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan renovasi 1995 ini terkesan bagaikan sangkar beton yang tertancap di bumi sebagai fondasinya. Masjid ini memiliki 3 lantai.

Lantai pertama sebagian digunakan sebagai Gudang, Kantor Takmir, Ruang Pertemuan, Perpustakaan, Balai Pengobatan, sanitasi dan tempat ambil air wudhu’.

Sebagian lagi tepatnya di bagian ke arah barat tertutup ditimbuni tanah. Lantai 2 sebagai ruang inti / haram dengan ukuran 50X50  meter dan samping kanan-kiri. 

Bagian depan dibatasi dinding sebagai serambi masjid. Tiang utama 4 (empat) buah dengan demikian kembali ke styl masjid Mataram yang memiliki empat pilar tiang agung yang tertancap di dasar bangunan tembus ke lantai tiga.

Lantai tiga juga dipersiapkan sebagai tempat sholat, dari lantai tiga ini  para jamaah dapat melihat imam shalat di lantai dua. Materi bangunan masjid banyak didatangkan dari luar Madura seperti marmar untuk lantai dari Tulungagung dan Lampung.

Tembok dinding dilapisi dengan ukiran, juga pintu dari kayu berukir dan ukiran ini didatangkan dari Jepara di Jawa Tengah dan Karduluk di Sumenep. Secara keseluruhan masjid renovasi 1995 masih dalam bentuk masjid tradisional, berserambi, bertiang utama (tiang agung) empat buah, tetapi atapnya tidak lagi atap tajung tumpang tiga melainkan bergaya Timur Tengah, bentuk segi empat dan berkubah cor pasir dan semen.

Nama masjid tetap Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dengan daya muat sebanyak 4000 jamaah.

Renovasi total Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan berlanjut hingga Pemerintahan Bupati Drs. H. Dwiatmo Hadiyanto, M.Si. Rehap dalam tahap akhir pemberian pagar dan gerbang masjid serta pelebaran Jalan Masigit khususnya di depan Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan dilaksanakan dalam Pemerintahan bersama Bupati Drs. H. Ahmad Syafii Yasin, M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang memerintah dari tahun  2003 s/d 2008 sekaligus merestui Takmir Masjid Agung Asy-Syahada Kabupaten Pamekasan yang baru yaitu Drs. H.R. Abd. Mukti, M.Si sebagai Ketua Umum Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan dan                              Drs. KH.M. Baidowi Ghazali, MM sebagai Ketua Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan.

Pada saat tulisan ini disusun renovasi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan memang sudah selesai sesuai dengan konsep semula.

Namun Wajah Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan terus-menerus dipercantik sebatas yang diperbolehkan agama, dan ragam rias ini selalu dalam pengamatan dan bimbingan langsung dari Bupati Kabupaten Pamekasan Drs. KH. Kholilurrahman, SH.,M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang keduanya mulai menjabat dari tahun 2008 s/d 2013.

Pada tahun 2011 tepatnya pada tanggal, 24 Mei 2011 Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten dan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan di lebur menjadi satu dengan nama Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Kabupaten Pamekasan yang di ketuai oleh Drs. H. RP. Abd. Mukti, M.Si.

Sumber : Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada' Kabupaten Pamekasan. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00