Rencana Pembangunan Bandara Bali Utara Segera Terwujud

Ist

KBRN, Jakarta: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Bali, Made Mangku Pastika, berpandangan dengan terbitnya rekomendasi dari sejumlah kementerian mengenai penetapan lokasi rencana pembangunan proyek Bandara Bali Utara telah menunjukkan "jalan terang".

Sebelumnya rencana pembangunan Bandara Bali Utara sempat tarik ulur mengenai lokasi yang dianggap pas. Sempat dulu bolak-balik diwacanakan di kawasan timur Kabupaten Buleleng yakni di Kubutambahan dan kini direncanakan di kawasan barat Buleleng.

“Saya pikir ini sudah ada jalan terang menuju pembangunan Bandara Bali Utara," kata Made Mangku Pastika di Denpasar, Bali, dilansir dari Antara, Rabu (28/7/2021).

Ia berharap, warga masyarakat di Pulau Dewata supaya mencerna rencana pembangunan itu dengan baik dan jangan belum apa-apa sudah ribut lagi. 

“Kalau semua sudah terpenuhi, tak ada alasan menunda penetapan lokasi sebab pembangunan bandara ini akan memakan waktu cukup lama. Di manapun lokasinya yang penting terwujud," kata Anggota Komite 2 DPD itu.

“Saya juga sempat bicara pada Dirjen Planologi, kalau memang ada kesulitan, pemerintah daerah akan ditunggu," sambungnya.

Ia menginginkan agar angkutan darat, laut dan udara terintegrasi, sehingga orang akan menganggap sama saja ketika mendarat di Bali Selatan atau Utara karena aksesnya mudah.

Yaka Sulistya yang mewakili General Manager (GM) Bandara I Gusti Ngurah Rai mengatakan,

Bandara Bali Utara rencananya akan berada di sekitar Taman Nasional Bali Barat.

Ia mengajarkan, Rekomendasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah terbit pada 15 Januari 2021. Sedangkan Rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah terbit pada 8 Februari 2021.

“Pemda (Pemda) Bali saat ini sedang melakukan penyusunan dokumen proposal untuk kerja sama lahan Taman Nasional Bali Barat kepada KLHK. PT. AP-I (Angkasa Pura) juga telah menyampaikan data dukung teknis untuk pengajuan proposal kerja sama lahan Taman Nasional Bali Barat,” kata Yaka Sulistya.

Ia menambahkan, rencana pengembangan bandara baru di Bali Utara tersebut karena mengingat kemampuan Bandara Ngurah Rai (sebelum pandemi Covid-19) mempunyai keterbatasan.

Kemampuan kapasitas Ngurah Rai  hanya mampu menampung 23 juta penumpang per tahun, dengan maksimum pengembangan kapasitas hanya sampai dengan 32 juta penumpang per tahun.

“Untuk menjadikan Bali sebagai International Tourism Gateway atau SuperHub pariwisata, dibutuhkan kapasitas bandara internasional dengan daya tampung 55 juta penumpang/tahun yang dilayani oleh 2 bandara yakni Ngurah Rai dan Bali Utara," jelasnya.

Sedangkan jika melihat kondisi saat ini karena dampak pandemi COVID-19, maka lalu lintas penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai memang sedang mengalami penurunan drastis.

“Seperti halnya pada Senin (26/7) hanya ada 13 pesawat yang terbang, dengan 945 penumpang. Kondisi saat ini telah membuat masyarakat mengerem perjalanan dari dan ke luar Bali, sehingga praktis hanya melayani penumpang yang tujuan mendesak ataupun tugas kedinasan," terangnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan masterplan Bandara Bali Utara Tahap 1, direncanakan bandara tersebut memiliki luas 310 hektar, memiliki 33 apron, runway sepanjang 3.400 meter, serta juga dilengkapi dengan airport city.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00