Turun Hujan Dimusim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Topan Primadi, Kepala Stasiun Meteorologo, BMKG Bima.jpg

KBRN, Dompu: Masih tingginya curah hujan di awal musim kemarau, yang terjadi di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, dalam dua pekan terakhir, bukan fenomena alam. Hujan yang masih turun terkadang dengan intesitas tinggi dan disertai angin ini, akibat tarikan suhu hangat laut di selatan Dompu dan Bima.

Kepala Stasium Meteorologi BMKG Bima, Topan Primadi menjelaskan, kondisi lautan yang hangat menyebabkan terbentuknya awan penyebab hujan. Ditambah lagi adanya suhu lembab daratan serta adanya dorongan angirn tumor, sehingga awan yang terbentuk itu, terdorong ke daratan.

“Diperkirakan kondisi ini masih bisa terjadi hingga pertengahan bulan Juli dan lebih melambat durasinya. Kalo sekarang mungkin seminggu dua kali, nanti dalam satu bulan bisa satu kali bahkan tidak sama sekali,” jelasnya, Rabu (23/6/2021).

BMKG memperkirakan, puncak musim kemarau yang diperkirakan tidak akan ada hujan sama sekali itu, terkaji antara Juli hingga September. Petani yang memilih komoditi sedikit air seperti kedelai dan petani garam, diminta untuk memanfaatkan pada bulan Agustus.

Namun demikian, warga masyarakat diminta tetap waspada, sebab selain bencana kekeringan, kebakaran hutan masih menjadi ancaman diwilayah Dompu dan Bima.

“Tradisi petani kita yang melakukan persiapan lahan dengan cara membakar, bisa berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00