FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Geliat Budidaya Ayam Cemani di Sumenep

KBRN, Sumenep: Budidaya ayam cemani kini terus berkembang hingga ke Kabupaten Sumenep, tidak hanya terpusat diwilayah asalnya yaitu Kabupaten Magelang dan Temanggung.  

Di Kabupaten Sumenep  banyak yang sudah membudidaya ayam berwarna hitam itu. Seperti yang terlihat di Dusun Mandala, Desa Keles Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. 

“Saya sudah hampir setahun membudidaya ayam ini, dan alhamdulilah saat ini sudah ada anakannya.” tutur Juni, pemuda setempat, Senin (21/06/2021).

Menurut Juni, awal mula memelihara ayam tersebut karena suka terhadap warna gelapnya yang unik dan langka. Bahkan warna kaki, mata, jengger dan kulitnya juga berwarna hitam. Dia membeli dua anakan ayam pada temanya yang masih berusia tiga minggu seharga Rp 200 ribu. Namun lama kelamaan ternyata banyak dicari orang untuk berbagai kebutuhan.

“Saya juga tidak menduga, dua anakan ayam yang saya pelihara ternyata sepasang ayam jantan dan betina. Sehingga saat ini sudah memiliki anakan yang usianya sekitar dua bulan,” imbuhnya.

Meskipun demikian, tidak semua anakan ayam tersebut berbulu hitam, karena dimungkinkan terjadi persilangan. Sebab ayam itu sering kali dibiarkan keluyuran bersama ayam-ayam kampung biasa yang warnanya juga beragam.

“Saat ini telurnya sudah 13 butir, semoga ini bisa hitam semua,” harapnya.

Ayam cemani yang dalam bahasa sansekerta berarti hitam, konon merupakan ayam hutan hijau dan ayam kampung biasa yang bermutasi gen. Ayam ini awal mula berasal dari Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, dan di Desa Kalikuto, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Konon, ayam cemani pertama kali dikembangbiakan oleh Ki Ageng Mangkuhan pada masa Kerajaan Majapahit. Alasan Ki Ageng membudidayakan ayam ini karena dianggap manjur sebagai obat daya tahan tubuh dan sebagai pelengkap ritual. 

Meski demikian, harga ayam cemani jauh lebih tinggi dibanding ayam kampung biasa karena ayam ini sulit diperoleh. Sepasang anakan ayam cemani harganya mencapai Rp500.000-Rp750.000, sedangkan sepasang indukan cemani harganya antara satu juta hingga belasan juta rupiah. 

Harga ini tidak terlalu mahal dibanding pada 1997 hingga 2010. Saat itu, harga indukan mencapai Rp25-40 juta dan anakan mencapai Rp125.000-Rp550.000. Sedangkan telurnya dihargai Rp80.000-100.000 per butir.(imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00