Penyebab Santri Mual dan Muntah Masih Misteri

BENGKULU, KBRN: Peristiwa santri dan santriwati yang terkapar setelah mengalami mual, pusing dan muntah-muntah kembali terjadi di Pondok Pesantren Hidayatullah Komariah di Kelurahan Padang Serai, Kota Bengkulu, Minggi malam (23/08).

Hingga Senin siang (24/8), dilaporkan sudah 61 santri/santriwati yang dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis. Jumlah ini memang lebih sedikit dibanding korban yang jatuh saat kejadian pertama pada tanggal 14 Agustus 2020 yang mencapai 150 orang.

Apa yang sebenarnya yang menyebabkan anak-anak ini mual, pusing lalu muntah-muntah? Hingga kini belum ada pihak yang bisa memastikan penyebabnya. 

Waka Polres Bengkulu Kompol Hendri Syah Putra mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji sampel laboratorium. Kata Hendri, sampel yang diuji adalah bekas muntahan, bahan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Termasuk pemeriksaan perkakas masak.

Dugaan sementara, kata Hendri, para santri/santriwati itu mengalami keracunan. Itu ditandai dengan gejala yang ditunjukkan seperti mual, sesak nafas, sakit perut, pusing dan muntah-muntah.

"Penyebabnya masih kita telusuri. Yang pasti anggota Satreskrim dan Intel sudah melakukan olah TKP. Sejumlah bekas muntahan dan sisa makanan sudah diambil sebagai sampel untuk dibawa ke BPOM dan rumah sakit. Tingga tunggu hasil lab," katanya, Senin (24/8).

Kata Hendri, proses hukum sejak kali pertama peristiwa dugaan keracunan ini terjadi, masih berjalan. Pihaknya sudah meminta keterangan tiga orang, yakni korban, pengurus pondok, dan juru masak.

"Kalau untuk tersangkanya masih jauh. Kita lidik dulu penyebabnya. Karena ini masih dalam proses, maka kita belum bisa bicara banyak kepada rekan-rekan media," imbuh Hendri.

Ia menambahkan, aktivitas di pondok pesantren masih berjalan biasa. Pihaknya tidak dalam kapasitas menghentikan proses belajar mengajar di sana.

"Untuk penghentian tidak ada kewenangan. Kita hanya memenuhi kepentingan BB dan alat bukti. Kalau nanti gara-gara makanan, tentu perlu diarahkan untuk ganti makanannya," kata dia.

"Bisa jadi faktor makanan. Bisa juga kesengajaan atau ada orang yang sengaja masukkan sesuatu. Semua kemungkinan bisa saja," ujar Hendri saat didesak soal kemungkinan penyebab yang paling mendekati.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu, Drs. H. Ramedlon, M.Pd mengatakan apa yang menimpa para santri menurut pimpinan atau pengurus pondok itu adalahkerasukan.

"Saya baru pulang dari pesantren untuk meminta informasi soal kejadian tadi malam. Keterangan dari pesantren, ada 54 santri bergantian mengalami kesurupan saat mereka lakukanistiqosah atau zikir," kata Ramedlon yang dijumpai di Kantor Kemenag Kota Bengkulu.

"Nah saat itu lah ada yang menjerit, kejang, menangis dll. Nah saking kencangnya, ada yang mual, lalu muntah-muntah. Karena tak mau ada apa-apa, lalu ada yang menghubungi polisi, RT, RW, dan warga sehingga santri yang sakit dibawa ke rumah sakit," papar Ramedlon.

Jika memang hanya kasus kesurupan, Ramedlon mengajak semua pihak untuk mendoakan supaya kasus serupa tidak terulang. "Kita doakan semua sehat. Tidak apa-apa," ucapnya.

Di sisi lain, Ramedlon juga mengapresiasi langkah dinas dan instansi terkait yang akan menguji sampel muntahan, makanan dan minuman serta higienitas alat-alat masak di pondok tersebut. Sehingga bisa dipastikan apa sebenarnya penyebab santri mengalami mual dan muntah-muntah.

"Jadi belum bisa kita pastikan apakah ini keracunan makanan, minuman atau karena faktor non-medis. Yang jelas kita doakan semua bisa segera berlalu. Semoga sirna semua penyakit yang ada di sana," tandasnya.

Lebih jauh Ramedlon mengakui sudah memberi saran kepada pengurus pondok agar menghentikan sementara proses belajar secara langsung atau tatap muka di sana. Saran itu juga akan disampaikan secara tertulis.

Sebagai gantinya, lanjut Ramedlon, pondok diminta menggelar metode belajar secara daring atau online. Dengan pola ini, para santri bisa dipulangkan dulu ke orang tua masing- masing.

"Kita sudah imbau pimpinan ponpes. Kita sarankan agar ditiadakan dulu tatap muka. Di samping gara-gara Covid-19, ini juga sudah dua kali kejadian. Anak-anak dipulangkan dulu ke rumah orang tua masing-masing. Jadi anak-anak belajar daring. Kita akan surati resmi," paparnya.

Terkait biaya pengobatan medis yang harus ditanggung Pondok Pesantren Hidayatullah Komariah, Ramedlon mengakui instansi yang dipimpinnya ikut membantu. Namun tidak keseluruhan.

"Kemenag Kota hanya bantu sebagian. Kita ambil kaplingan sedikit. Sisanya pimpinan pondok yang ambil. Ada tagihan 80 juta lebih," ungkap dia.

Sementara itu Kepala Rumah Sakit Harapan dan Doa Kota Bengkulu dr Listacherylviera mengaku tak mau berspekulasi terkait penyebab mual dan muntah-muntah santri/santriwati itu adalah kerasukan.

"Saya nggak paham soal itu. Yang pasti, kita melayani secara medis. Tindakan penanganan yang diberikan sesuai dengan gejala medisnya. Kalau berkaitan dengan hal spiritual, kita tak bisa komentari. Kita tak paham soal itu," ujarnya.

Yang pasti, lanjut dr Lista--begitu dia biasa disapa, gejala klinis yang ditunjukkan korban yang dibawa ke RSHD adalah kejang-kejang, mual-mual dan pusing. Tak ada yang sampai masuk ICU.

"Diagnosa sementara berkaitan engan apa yang dimakan dan diminum. Makanya nanti BPOM akan ambil sampel dari sana. Kami tangani sesuai dengan gejala klinis. Ini nanti akan sinergis dengan hasil BPOM dan dikaitkan dengan peristiwa pertama," ujar dr Listy.

dr Listy menambahkan, jumlah korban yang dirawat di RSHD hingga Senin siang sudah 59 orang, termasuk tambahan tujuh orang yang baru masuk Senin pagi.

Karena itu, ia juga menepis tudingan yang menyebut Walikota Bengkulu tidak berbuat apa-apa menyikapi peristiwa di pondok pesantren tersebut.

"Kami adalah OPD yg dinaungi Pemkot. Instruksi walikota, agar dilayani dengan baik. Inilah bentuk empati walikota. Jadi jangan dibilang Walikota tidak peduli," katanya.

Sementara itu, Muklis, salah seorang yang mengaku hanya relawan di pondok pesantren, mengakui hingga saat ini penyebab pasti anak-anak santri mengalami mual, kejang-

kejang, hingga muntah-muntah belum diketahui.

Ia mengakui proses belajar di pondok masih berjalan seperti biasa pasca-peristiwa pertama lalu. Soal sikap pondok terhadap saran Kemenag Kota agar digelar metode belajar online, ia mengaku belum tahu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00