Barong Landong Diajukan Jadi Bahan Ajar di SMP dan SMA

Sosialisasi Barong Landong Jadi Bahan Ajar

KBRN, Bengkulu: “Kesenian Barong Landong”, sebenarnya tak banyak yang mengenal kesenian tersebut merupakan warisan budaya asli dari Kota Bengkulu, tepatnya milik Masyarakat Lembak Tanjung Agung, Kecamatan Sungai Serut.

Jangankan secara nasional atau mendunia, masyarakat Kota Bengkulu pada khususnya baru mengenal sepasang boneka besar mirip Ondel ondel Jakarta itu kisaran tahun 2012 lalu, ketika diperkenalkan kembali pada peringatan Ulang Tahun Kota Bengkulu dan saat Festival Tabut di tahun yang sama.

Keprihatinan dan kekhawatiran akan punahnya Kesenian Barong Landong dari masyarakat pemilik budaya juga kekayaan adat istiadat Indonesia itu, mendorong pihak akademisi khususnya Universitas Indonesia untuk kembali mengangkat Kesenian Barong Landong ke mata dunia.

Apalagi dengan adanya pengakuan dari KWRI UNESCO, yang menjadikan kearifan lokal itu sebagai Warisan Budaya Tak Benda – WBTB dari Kota Bengkulu, yang juga atas dorongan Universitas Indonesia melalui Program Pengembangan Masyarakat di tahun 2020 lalu.

Menyadari masyarakat pemilik budaya menjadi salah satu tolak ukur pelestarian kesenian Barong Landong di daerah asalnya, Universitas Indonesia yang diiniasi Ketua Pengabdian Masyarakat , Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana SS. M.Si bersama tim juga mengharapkan kesenian itu bisa diperkenalkan di sekolah-sekolah khususnya tingkat SMP dan SMA sebagai materi pembelajaran muatan lokal.

Sosialisasi kepada para Guru Seni Budaya SMP dan SMA di Kota Bengkulu pun dilakukan di tingkat dinas, yang diharapkan nantinya bisa bermuara pada perumusan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran – RPP bagi siswa.

“Sosialisasi ini nanti akan berlanjut dengan workshop pada bulan November nanti. Bahan ajar yang sudah disusun nantinya kemungkinan akan berisi cara membuat Barong Landong, bagaimana musik pengiringnya, bagaimana gerak tarinya dan hal lain berkaitan dengan kesenian ini.” ungkap Profesor Cecep terkait bahan ajar yang nantinya akan memandu guru yang bersangkutan tidak hanya terfokus pada penyampaian materi namun juga penghayatan terhadap Seni Barong Landong yang akan disampaikan kepada siswa.

Dalam sosialisasi tersebut, Panitia Pengabdian Masyarakat UI juga menghadirkan Ahli Seni Pertunjukan Dr. Syahrial  dan  Dr. Jajang Gunawijaya yang merupakan Ahli Pariwisata Budaya, keduanya pemateri yang didatangkan dari Universitas Indonesia. Disamping itu juga melibatkan Ketua Dewan Kesenian Daerah Kota Bengkulu, Drs Ajalon Tarmizi dan  Yuliet S.Sn.

Dalam pemaparannya, Dr. Syahrial  menuturkan  Barong Landong merupakan  budaya yang  nyaris  punah, melalui  pengabdian masyarakat ini maka peran kurikulum diharapkan dapat membangkitkan kembali keberadaan  Barong Landong ditengah masyarakat dan  diharapkan warisan budaya tersebut dapat diwariskan secara generatif atau turun temuruan sehingga perwarisan dapat terwujud. (Lns)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar