Penelitian Tentang Bunga Raflesia Terhambat Minimnya Peneliti dan Dukungan Pemerintah

KBRN, Bengkulu: Sudah sejak lama Bengkulu dikenal sebagai the land of Rafflesia atau surga bunga raflesia, hal itu karena 6 jenis bunga Rafflesia yang ada di dunia ditemukan di Bengkulu. Terlebih Bengkulu merupakan wilayah bersejarah atas penemuan bunga Rafflesia Arnoldi yang menjadikan Bengkulu dikenal sebagai habitat asli bunga raflesia Arnoldi. 

Sayangnya kemasyuran nama Bengkulu sebagai surga bunga Rafflesia tidak diiringi dengan penelitian tentang bunga Rafflesia secara mendalam, hanya ada sedikit penelitian tentang bunga Rafflesia yang ada di Bengkulu, itupun dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memang memiliki kecintaan khusus terhadap bunga tersebut. 

Profesor Agus Susetya penemu dua jenis Rafflesia di Bengkulu mengatakan minat peneliti untuk mengeksplorasi Raflesia lebih jauh sangat minim, belum lagi  pendanaan untuk meneliti bunga Rafflesia ataupun flora lainnya memang sangat sedikit di Indonesia.Bahkan di Indonesia orang-orang yang fokus dalam penelitian bunga langka seperti Rafflesia bisa dihitung dengan jari, seperti peneliti dari LIPI, IPB, dan Kebun Raya Bogor. Sedangkan di Bengkulu diakuinya mungkin hanya dirinya yang meneliti Raflesia secara berkesinambungan. 

"Ia sangat memperhatikan sekali karena peminatnya kurang dukungan juga minim, sementara meneliti itu tidak murah, tak sedikit peneliti yang harus mengeluarkan uang sendiri sebagai dana penelitian" ujar Prof. Agus kepada RRI (28/1/2022).  

Ia mengatakan dukungan dari pemerintah untuk mendorong para peneliti melakukan kajian lebih dalam sangat minim. Terlebih perhatian secara khusus pada flora tersebut juga masih sekedar jargon.Dosen Ilmu Kehutanan universitas Bengkulu ini menyebut Indonesia memang tertinggal jauh dalam hal penelitian puspa langka khususnya Rafflesia, justru negara Filipina dengan koleksi Raflesia yang sedikit jauh lebih serius untuk melakukan kajian tentang bunga raflesia bahkan berpotensi atas keberhasilan konservasi bunga Rafflesia di Filipina.

"kalo negara kita sangat tertinggal, negara tetangga justru lebih intens dalam meneliti, dukungan pemerintah setempat juga besar" tambahnya. 

Selain itu kesedihan mendalam bagi dirinya adalah di Indonesia terlebih di Bengkulu adanya bunga raflesia bagi masyarakat Bengkulu ataupun bagi pemerintah daerah merupakan hal yang biasa, bahkan bagi sebagian orang mungkin merupakan hal yang kurang menarik, sehingga upaya pelestarian bunga Rafflesia yang harus didukung dengan penelitian berjalan sangat lambat bahkan nyaris tidak ada kemajuan. 

"Tanpa penelitian konservasi bagi saya hanay angan angan" pungkasnya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar