Senator Riri : Selamatkan Generasi dengan Literasi Teknologi

KBRN, Bengkulu - Ketika berkunjung ke Kota Bengkulu, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Minat Baca Perpustakaan Nasional dalam sebuah Rapat Koordinasi Perpustakaan dan Kearsipan empat tahun lalu menyatakan, minat baca di Indonesia tergolong paling rendah di dunia.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, sebagai salah satu indikator kualitas bangsa, minat baca masyarakat harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat bisa membaca setiap fenomena kehidupan berdasarkan fakta dan informasi yang valid.

"Minat baca rendah, hoaks jadi melimpah. Berita bohong di media sosial adalah musuh besar bangsa saat ini. Hoaks sulit diberantas kalau pemerintah tidak gencar memberikan edukasi dan literasi agar masyarakat kritis terhadap setiap informasi," kata Hj Riri Damayanti John Latief pada peringatan Hari Pustakawan yang jatuh hari ini pada Rabu, (7/7/2021).

Alumni Psikologi Universitas Indonesia ini menjelaskan, minat baca adalah bahan bakar utama untuk memacu semangat masyarakat agar bisa melakukan telaah dan konfirmasi kebenaran terhadap semua informasi yang beredar di internet.

"Jadi pemerintah nggak perlu repot-repot memberikan klarifikasi setiap ada berita hoaks. Masyarakat sudah mandiri dan tahu, oh, ini berita bohong, ini provokasi, ini sampah. Jadi nggak semua informasi ditelan mentah-mentah," sampai Riri.

Senator Bengkulu ini menyampaikan, rasa khawatirnya terhadap banyaknya sekolah-sekolah yang diliburkan selama masa pandemi covid-19 karena berpotensi mendorong melonjaknya angka anak yang tak bisa membaca.

"Kampanye membaca di rumah-rumah mesti digencarkan. Kalau perlu setiap lingkungan RT/RW dan desa-desa bikin jam wajib belajar masyarakat. Daerah-daerah yang minat baca masyarakatnya rendah silahkan belajar dari daerah-daerah yang berhasil mendongkrak minat baca warganya," ungkap Riri.

Riri menambahkan, pemerintah daerah juga harus mulai gencar melakukan literasi teknologi informasi sebagai sesuatu yang mesti ada bagi para pelajar dan mahasiswa.

"Di era pandemi ini semua pembelajaran sudah sangat bergantung dengan internet. Bijak bermedia sosial harus ditanamkan sejak dini supaya kelak anak-anak muda yang lahir sekarang tumbuh sebagai orang-orang yang haus ilmu, bukan para pecandu game," demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Untuk diketahui, Hari Pustakawan merupakan peringatan yang ditujukan untuk mengingat pentingnya peran pustakawan atau librarian sangat diperlukan untuk mengelola ribuan buku berdasarkan kategorinya sehingga memudahkan para peminjam buku (pemustaka).

Diperingati sejak tahun 1990 saat Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor 5-7 Juli 1973, saat ini di era digital perpustakaan bisa diakses darimana saja dan kapan saja sepanjang ada koneksi internet.

Melalui teknologi, pemustaka bisa mengakses e-buku-buku, jurnal, makalah dan informasi yang dibutuhkan dengan mudah, nyaman dan menyenangkan.

Sayangnya, warga yang berminat mengakses perpustakaan dan mau meluangkan waktu untuk membaca buku atau ebook, jauh lebih rendah dari minat bermain game dan baca status.

Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2019 mengungkapkan Indonesia berada pada urutan nomor 62 dari 70 negara dalam soal tingkat literasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00