Dipecat Kapolda, Pendiri INKANAS Bengkulu Kecewa

BENGKULU, KBRN: Terkait pemberhentian dirinya sebagai ketua Majelis Sabuk Hitam dan dipecat sebagai anggota Institut Karate Nasional (INKANAS) Provinsi Bengkulu, Patriati S.Sos MM MSi akhirnya angkat bicara. 

Kepada RRI, pemegang DAN V karate itu mengaku kecewa. Ia mengatakan keputusan tersebut tidak melalui proses konfirmasi kepada dirinya.

Meski demikian, Patriati menyatakan menerima keputusan tersebut. Ia tak berniat menggugat. Bagi Patriati, nasi sudah jadi bubur. Ia terlanjur kecewa karena nama baiknya menjadi buruk. 

"Mau bagaimana lagi? Saya iklaskan saja. Saya juga tidak mungkin kembali. Dan saya juga sudah dapat mandat mendirikan perguruan yang baru di Bengkulu," kata Patriati. 

Disinggung soal pelanggaran yang dialamatkan kepadanya, Patriati menjelaskan bahwa untuk pelaksanaan ujian kyu ada tahapannya. Mulai dari rapat pembentukan panitia, jadwal ujian, dan waktu pelaksanaan. 

"Selama ini begitulah yang saya lakukan. Kok tiba tiba saya dianggap melanggarnya AD/ART?  Dan rekomendasi untuk mengambil sabuk saya buat sudah melalui prosedur. Dalam undangan ujian DAN yang bisa mengeluarkan rekomendasi adalah Ketua Umum dan Ketua MSH," jelasnya. 

"Karena Ketua Umum tidak bisa ditemui, Ketua Harian di luar kota, kalau dianggap melanggar AD ART juga, artinya DAN yang mereka dapat juga melanggar AD ART. Yang membuat surat pemberhentian saya adalah orang non teknis. Jadi mau bagaimana lagi?" kata Patriati. 

Seperti diberitakan, Patriati, salah seorang pendiri INKANAS Bengkulu diberhentikan dari jabatannya sebagai ketua Majelis Sabuk Hitam Pengda INKANAS Bengkulu. Ia juga dipecat dari keanggotaan INKANAS di Provinsi Bengkulu. 

Keputusan Kapolda Bengkulu selaku Ketua Umum Pengda INKANAS Bengkulu itu dibuat dengan alasan bahwa Patriati melanggar AD/ART terkait dengan kewenangan dan etika organisasi, yakni dengan menandatangani surat izin dan surat rekomendasi non prosedural.

Patriati juga disebut telah menyelenggarakan Gashuku dan ujian penurunan kyu tanpa persetujuan ketua umum dan atau ketua harian yang menciptakan dualisme kepemimpinan dengan menciptakan konflik yang menimbulkan perpecahan di Pengda INKANAS Bengkulu. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar