Pembuatan Rumpon Upaya Tingkatkan Hasil Tangkapan Nelayan

KBRN, Bengkulu - Upaya mendorong peningkatan hasil tangkapan nelayan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu merancang program pembuatan rumpon atau rumah ikan di sejumlah titik di perairan laut Bengkulu.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan, selain sebagai upaya peningkatan hasil tangkapan nelayan, program rumpon itu juga bertujuan mengantisipasi penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti pukat harimau atau trawl.

"Disamping hasil tangkapan nelayan kita tetap berlimpah, disisi lain juga mencegah penggunaan alat tangkap ilegal yang tidak ramah lingkungan dan merugikan nelayan itu sendiri," ujar Rohidin pada Minggu, (7/3/2021).

Selain itu Gubernur menjelaskan, dengan memiliki garis pantai sepanjang 525 kilometer menjadikan Provinsi Bengkulu sebagai daerah dengan sumber daya laut yang besar. Hanya saja potensi kemaritiman itu masih belum di kelola secara optimal, sehingga belum bisa memberikan kemakmuran bagi masyarakat.

Padahal, diakui, nilai tukar pada perikanan tangkap lebih besar dibandingkan perikanan budidaya, sehingga kekayaan laut Bengkulu yang melimpah ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, namun harus mengikuti aturan yang ada.

"Semua itu tentunya butuh sarana dan prasarana, juga dibutuhkan teknologi yang lebih baik dan lengkap, karena bagaimanapun juga posisi laut yang ada di Provinsi Bengkulu dengan ombak laut yang cukup tinggi," jelasnya.

Sementara dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyebutkan, produksi tangkapan nelayan Bengkulu pada tahun 2019 sebanyak 70,829 ton dengan nilai mencapai Rp 2,6 miliar lebih, meningkat dari tahun 2018 sebanyak 67,299 ton dengan nilai mencapai Rp 2,4 miliar lebih.

Sedangkan untuk hasil produksi ikan budidaya air tawar di Bengkulu, pada tahun 2020 mengalami kemerosotan dibanding tahun sebelumnya.

Lalu, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bengkulu mencatat produksi ikan budidaya air tawar di Bengkulu pada 2019 mencapai 122,79 ton. Sedangkan hingga September 2020 jumlahnya hanya mencapai sekitar empat ton lebih.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00