Dinkes Propinsi Bengkulu dan Aktivis Perempuan Bengkulu Mengajak Masyarakat Mencegah Terjadinya Pernikahan Anak Dibawah Umur

KBRN, Bengkulu: Propinsi Bengkulu per tahun 2020 menjadi 10 besar propinsi dengan kasus perkawinan anak usia dini atau dibawah umur. Tercatat sebanyak 178 kasus terjadi disejumlah wilayah di propinsi Bengkulu.

Penaggung Jawab Program Kesehatan Reproduksi dan Calon Pengantin Dinas Kesehatan propinsi Bengkulu Sri Nuryanti mengatakan perkawinan usia anak sangat tidak dianjurkan. Ia mengatakan perkawinan anak dibawah umur memiliki banyak risiko khususnya risiko yang mengarah pada kesehatan reproduksi bagi si perempuan. Selain itu juga rentan terhadap kasus kematian ibu dan kasus kematian bayi. belum lagi ancaman gangguan janin, kanker rahim atau serviks serta sejumlah ancaman penyakit biologis lainnya.

“Tidak hanya ancaman kesehatan bahaya lain yang juga mengintai adalah potensi usia  pernikahan yang singkat, lantaran angka perceraian usia muda didominasi oleh kasus pernikahan usia dini” ungkap Sri Nuryanti saat dialog Bengkulu Menyapa Jumat di pro 1 RRI Bengkulu (5/3/2021) pagi

Sementara itu Direktur Yayasan PUPA Bengkulu Susi Handayani menyebut pernikahan usia anak saat ini bahkan telah direvisi menjadi minimal 19 tahun, sebelumnya seorang anak perempuan boleh menikah pada usia 16 tahun. Meski sudah direvisi namun UU tersebut tetap memberikan ruang bila pernikahan usia dibawah 19 tahun untuk terjadi.

“sebisa mungkin harus benar benar dihindari, selain mengancam kesehatan khususnya bagi perempuan dan calon anak, juga berpotensi atas munculnya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)  yang kerap menempatkan pihak perempuan sebagai korban.” Ujar Susi Handayani.

Adanya ancaman KDRT itu lantaran lantaran seseorang yang menurutnya masih butuh perlindungan sebagai anak jutsru harus melindungi lantaran telah menikah, seseorang yang masih harus dinafkahi terpaksan harus menafkahi orang lain.

Susi dan Sri menuturkan agar orang tua dan masyarakat harus dapat mencegah agar anak tidak menikah pada usia muda, bahkan ia meminta agar tidak ada lagi orang tua yang memaksakan anaknya untuk cepat menikah.

Adanya paksaan untuk cepat menikah khususnya pada anak perempuan ungkap Susi masih kerap terjadi di Bengkulu, umumnya dilatar belakangi kasus kekerasan yang menimpa anak perempuan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00