Pemkot Bengkulu Dorong Penanganan Stunting Sasar Sekolah

Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi

KBRN, Bengkulu : Wakil Walikota Bengkulu Dedi Wahyudi selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Bengkulu menyebutkan, upaya percepatan penurunan prevalensi stunting harus menyasar kelompok remaja di sekolah. 

Ia minta satuan pendidikan di daerah itu untuk mengedukasi kelompok remaja dengan menyasar sekolah-sekolah. Mengingat, remaja adalah kelompok usia yang paling awal dalam pencegahan stunting dari sektor hulu.

”Perlu adanya pemetaan terhadap sekolah-sekolah yang rawan nikah usia dini. Mulai dari sekolah tingkat menengah pertama dan sekolah tingkat atas agar mudah diterima kelompok remaja/pelajar maka perlu melibatkan kelompok generasi berencana (GenRe)” kata Dedy Wahyudi, Selasa (17/5/2022).

Dedi Wahyudi menekankan, agar remaja kalangan pelajar harus mampu menghindari pernikahan dini dan perilaku seks bebas agar tidak melahirkan bayi kurang gizi. 

"Mereka perlu mendapat pengetahuan dan pendidikan kesehatan reproduksi," kata Dedy.

"Dalam pencegahan risiko stunting jangan terjadi pernikahan dini, untuk mencapai hal tersebut remaja harus mendapat pengetahuan dan pendidikan kesehatan reproduksi," lanjutnya.

Ia mengajak sejumlah instansi terkait dalam penanganan stunting untuk bekerja secara konkrit. Untuk itu perlu adanya rencana kerja dan peta sasaran. 

Terlebih berdasarkan data hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 mencatat prevalensi stunting di Kota Bengkulu sebesar 22,2 persen yang menempati posisi ke-lima dari 10 kabupaten/kota di Bengkulu.

Menurut dia, selain sekolah-sekolah sebagai lokus penanganan stunting sektor hulu. Tidak kalah penting pemerintah harus melibatkan para tokoh, tokoh adat, pemuda, tokoh agama yang dilakukan secara bergotong-royong. 

"Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif," ungkap Dedy.

Ia menyakini jika penanganan stunting dilakukan secara konvergensi maka kasus kurang gizi kronis di daerah itu dapat ditekan hingga mencapai zero stunting pada 2024 mendatang. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar