Tak Penuhi Modal Rp. 1 Triliun, Legislator Sebut Bank Bengkulu Terancam

KBRN, Bengkulu : PT. Bank Bengkulu selaku salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di perbankkan, akan terancam turun kasta menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR), apabila tidak memenuhi modal inti sebesar Rp. 1 triliun pada Desember 2020 mendatang.

Untuk memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 41/POJK.03/2019 tentang Penggabungan, Peleburan, Pengambil-alihan, Integrasi, dan Konversi Bank Umum, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu dalam pengajuan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) RAPBD tahun 2021, ada memasukan penyertaan modal ke Bank Bengkulu sebesar Rp. 20 milyar, yang menjadi pertanyaan DPRD Provinsi.

Seperti disampaikan Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Bengkulu Edwar Samsi, kepada rri.co.id.

Menurut Edwar, kebijakan Pemprov yang memasukan penyertaan modal sebesar nilai tertera dalam KUA PPAS tersebut, tidak bisa direalisasikan. Mengingat banyak kegiatan pembangunan infrastruktur yang kekurangan dana. Belum lagi pendapatan secara keseluruhan tahun ini, berkurang, sehingga membutuhkan anggaran dana yang cukup.

Oleh karena itu, pihak legislatif telah meminta Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Provinsi, agar menyusun ulang dan merubah nilainya menjadi Rp. 15 milyar.

“Nilai sebesar Rp. 15 milyar untuk penyertaan modal itu, karena ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengaturnya. Apalagi nilai deviden yang setiap tahunnya berkisar di angka Rp. 15 milyar,” ujar Edwar pada Rabu, (21/10/2020).

Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan, alasan awal pihak Pemprov memasukan penyertaan modal ke Bank Bengkulu yang masuk Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 1tersebut, untuk memenuhi modal inti sebesar Rp. 1 triliun.

Dengan kondisi yang terjadi sekarang, ditambah lagi modal inti Bank Bengkulu yang baru dikisaran Rp. 800 milyar lebih, Anggota DPRD Provinsi dari daerah pemilihan (dapil) Kabupaten Kepahiang ini justru pesimis akan bisa tercapai, dengan waktu yang tersisa ini, jika manajemennya tidak berjuang untuk memenuhinya.

“Pesimis saya bisa mencukupi modal inti diperkirakan sekitar Rp. 200 milyar lagi, karena dari produk saham seri B Bank Bengkulu yang diluncurkan belum lama ini, tidak banyak peminatnya. Makanya solusi yang mesti di ambil dengan meyakinkan pihak pengusaha baru, meskipun dikabarkan sebelumnnya sempat gagal dan tidak hanya mengandalkan kredit dari pegawai negeri serta UMKM,” terangnya.

Lebih lanjut ditambahkan, terlepas dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) belum lama ini, masih mempertahankan direksi Bank Bengkulu yang sekarang memimpin, namun jika memang tidak bisa memenuhi modal inti seperti diamanatkan peraturan yang berlaku, sebaiknya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajamen Bank Bengkulu.

“Kita sedih mendengar kita nandi Bank Bengkulu turun kasta. Tapi solusi penyertaan modal dengan selalu mengambil uang rakyat dari APBD juga di nilai kurang tepat, dan nilai-nya juga tidak bisa banyak. Jadi, mesti ada solusi lain dari manajemen Bank Bengkulu sendiri,” jelas Edwar.

Sementara sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari manajamen Bank Bengkulu, terkait langkah ataupun strategi untuk memenuhi modal inti sebesar Rp. 1 triliun pada tahun 2020 ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00