KPPU Lakukan Pengawasan Terhadap Komoditas Penyumbang Inflasi di Bengkulu

KPPU RI

KBRN, Bengkulu : Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil II melakukan pengawasan terhadap komoditas utama yang memberikan andil dalam pembentukan inflasi di Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu, Provinsi Bengkulu mengalami inflasi sebesar 0,91 persen pada Juli 2022 (month-to-month).

Lima besar komoditas utama penyumbang inflasi yaitu angkutan udara sebesar 0,30 persen, cabai merah 0,20 persen, SMA 0,06 persen, bawang merah 0,05 persen dan ikan tuna 0,04.

Kepala Kantor KPPU Wilayah II, Wahyu Bekti Anggoro mengatakan, sejalan dengan hasil pemantauan KPPU Kanwil II terhadap harga bahan pangan pokok pada Juli 2022, harga beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Dimana harga cabai merah mengalami kenaikan 22,44 persen dan bawang merah mengalami kenaikan sebesar 15,07 persen, dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kenaikan harga cabai merah dan bawang merah disebabkan oleh faktor cuaca dan biaya transportasi,” ujarnya dalam rilis pada Senin, (8/8/2022).

Wahyu menyampaikan, sektor pangan merupakan salah satu daripada banyak sektor yang menjadi objek pengawasan KPPU Kanwil II.

Selanjutnya, pengamatan harga bahan pangan pokok pada bulan Agustus 2022, terpantau pergerakan harga beberapa komoditas yang pada bulan sebelumnya menyumbang inflasi terbesar di Provinsi Bengkulu sudah menunjukan trend penurunan harga yang signifikan.

“Diharapkan dengan trend penurunan harga tersebut dapat berpengaruh terhadap penurunan inflasi di Provinsi Bengkulu,” katanya.

Atas komoditas utama penyumbang inflasi tersebut, lanjutnya, KPPU Kanwil II akan terus melakukan pemantauan. Terlebh pelaku usaha dihimbau tidak memanfaatkan situasi dengan memainkan harga untuk memperoleh keuntungan yang eksesif.

Mengingat struktur pasar pada komoditas tersebut cenderung oligopoli dan monopoli.

“KPPU Kanwil II akan menindaklanjuti baik melalui penegakan hukum persaingan usaha maupun pemberian saran dan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah, jika ditemukan adanya perilaku anti persaingan yang dapat berpengaruh pada tingkat inflasi baik di tingkat daerah dan nasional,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar