Harga TBS Sawit Anjlok, Pemerintah Harus Tegas dan Buat Aturan Khusus

KBRN, Bengkulu : Setelah sebelumnya salah satu komoditas hasil perkebunan Kelapa Sawit, akan memberikan angin segar bagi petani dalam upaya meningkatkan kesejahteraannya, namun seiring pandemi Covid 19 mulai mereda, harga beli Tandan Buah Segar (TBS)-nya kembali anjlok.

Dimana untuk harga beli terbaru yang sudah ditetapkan Pemerintah Daerah melalui dinas teknis sebesar Rp. 1.845,- perkilogram, dari sebelumnya Rp. 2.200,- perkilogram. Artinya mengalami penurunan, bahkan harga saat ini semakin turun dari harga-harga sebelumnya.

Hal itu dibenarkan Analisis Pasa Hasil Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu Yohan, dalam Dialog Lintas Bengkulu Pagi dengan tema Harga TBS Semakin Menurun, Menunggu Intervensi Pemerintah yang digelar RRI Pro Satu Bengkulu pada Jumat, (24/6/2022) pagi.

Menurutnya, penetapan harga TBS Kelapa Sawit yang terus mengalami penurunan itu, tidak asal ditetapkan begitu saja, sudah ada aplikasi tersendiri yang diawali dengan invoice harga beli dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dan diikuti berbagai pihak berkompeten dalam wilayah Provinsi Bengkulu.

Bahkan Pemerintah Daerah juga tidak bisa mengintervensi dengan bisa menetapkan harga sendiri. Apalagi penurunan harga tersebut bukan kali ini terjadi, tetapi sudah semenjak adanya larangan pemerintah untuk mengekspor CPO dan turunannya. Dengan demikian berdampak pada pembelian TBS karena untuk diolah, keberadaan tangki penampungan di pabrik masih penuh.

Belum lagi tidak dipungkiri diakuinya, meski harga beli sudah ditetapkan, namun tidak berlaku di tingkat pabrik, lantaran panjangnya rantai ekonomi yang harus dilalui petani dalam menjual hasil panennya dan semua itu menginginkan keuntungan.

“Yakin lah pemerintah terus berupaya mencarikan solusi, agar harga beli TBS Sawit ini bisa normal kembali, kendati dari 31 PKS yang menyetorkan invoice dan memenuhi syarat hanya 3 PKS. Bahkan dinas teknis sudah menyurati Gubernur Bengkulu untuk meneruskan kepada para Bupati dan Walikota yang wilayahnya memiliki PKS, dalam pemberian peringatan ataupun sangsi bagi yang tidak melaksanakan kebijakan bersama,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPW Apkasindo Provinsi Bengkulu Jhon Simamora menyampaikan, pihaknya sebagai asosiasi sekaligus perwakilan petani yang termasuk dalam tim penetapan harga beli TBS Sawit selalu aktif, meski ada juga aspirasi yang tidak bisa direalisasikan, lantaran PKS sendiri cendrung tidak transparan dalam hal invoice.

Ditambah lagi dalam pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan, juga belum sesuai, karena hampir di seluruh PKS membeli TBS Sawit dibawah ketetapan. Kemudian ketika menjual ke pabrik tidak bisa langsung diterima, melainkan harus mengantri hingga 4 hari lamanya, sehingga berdampak TBS yang awalnya segar menjadi layu dan ada yang sudah busuk. 

“Mengacu pada berbagai persoalan itu, kami minta dinas teknis, termasuk Gubernur dan para Bupati/ Walikota agar mencari regulasi yang benar-benar mengikat, sehingga setiap kebijakan bisa terlaksana dengan baik. Mengingat saat ini kondisi petani sawit sudah panceklik, dan karena harga jual anjlok itu ada petani yang membiarkan buah sawit membusuk di atas batangnya,” terangnya.

Dibagian lain pemerhati ekonomi Universitas Dehasen Bengkulu Dr. Anzori Tawakal menyampaikan rasa prihatin mendalam dengan harga TBS yang murah dan minyak goreng masih mahal. Padahal harga CPO di tingkat dunia sedang naik-naiknya.

Oleh karena itu Anzori menyarankan, dalam hal persoalan harga beli TBS sawit, Pemerintah harus melakukan evaluasi secara menyeluruh, termasuk tata niaganya dan adanya regulasi khusus, dengan menggelar duduk bersama-sama dari semua tingkatan.

“Pemerintah memang harus membuat regulasi harus dibuat dengan berpihak kepada petani, karena memang biaya pemeliharaan, tidak bisa ditutupi dari hasil produksi. Begitu juga perusahaan harus transparan dalam segala hal, termasuk invoice-nya dan kepada pemerintah juga harus tegas menegakan aturan yang sudah ada,” tukasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar