Harga TBS Kian Anjlok, Legislator Amati Perekonomian Petani Bisa Terancam

KBRN, Bengkulu : Akibat kian anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Bengkulu, secara tidak langsung memberikan dampak yang besar terhadap kondisi perekonomian para petani.

Terlebih sejak anjloknya harga TBS kelapa sawit tersebut, membuat kehidupan petani semakin memprihatinkan.

Pernyataan itu diungkapkan Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Fitri, SE, setelah menerima berbagai keluhan masyarakat di wilayah Kabupaten Mukomuko.

Diakuinya, sebelumnya saat harga TBS kelapa sawit Rp 3 ribu per kilogram, pertumbuhan ekonomi petani, sangat pesat yang ditandai dengan mulainya para petani kelapa sawit membeli mobil, walaupun dengan cara kredit.

Tetapi sejak harga TBS anjlok, jangankan untuk membayar kredit mobil, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja susah.

“Ketika kondisi harga TBS kelapa sawit terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan kedepannya bagi para petani yang sebelumnya sempat mengredit mobil, akhirnya mobil tersebut ditarik leasing. Kemudian dengan anjloknya harga TBS ini juga berdampak terhadap perekonomian tukang panen ataupun buruh lansir buah,” ujarnya pada Selasa, (21/6/2022).

Anggota DPRD Provinsi dari dapil Kabupaten Mukomuko ini menyampaikan, sebenarnya dengan kondisi harga saat ini, petani kelapa sawit hanya mendapatkan sekitar 20 persen dari menjual buah TBS.

Misalnya, harga TBS saat ini dibeli sekitar Rp 1.100 per Kg, untuk upah tukang panen Rp 250 per Kg dan tukang lansir juga demikian. Belum lagi ditambah kebutuhan pupuk yang harganya tetap tinggi, walaupun harga TBS murah.

“Dengan demikian terkait harga TBS ini cukup ironis. Sementara pemerintah saat ini juga tidak bisa berbuat banyak, sehingga sekarang ini ada kesan pemerintah takut terhadap perusahaan. Jadi yang sebenarnya mengatur daerah kita ini siapa, pemerintah atau perusahaan," tandas Fitri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar