Trend UMKM Thrift di Bengkulu

BENGKULU, KBRN: Usaha menjual barang-barang seken bermerek atau second branded kini tengah marak-maraknya di tanah air. Tak hanya pakaian, usaha ini juga menjual sepatu, topi dan tas serta barang bermerek lainnya. 

Pelaku usaha menyebut aktivitas ini sebagai usaha thrift. Usaha thrift sendiri artinya adalah usaha yang menjual barang-barang bekas atau reject dari pabrik baik dari luar negeri maupun dalam negeri. 

Di Bengkulu sendiri, usaha thrift juga tampak menjamur belakangan ini. Meskipun sejumlah pelaku usaha sebenarnya sudah merintis usaha ini sejak lama. Ada yang karena coba-coba. Ada juga yang berangkat dari hobi mengoleksi sampai tak tertampung sehingga dijual kembali.

Rachmad Gemilang, misalnya. Owner Outfit Second Bengkulu yang berlokasi di Kelurahan Pondok Besi ini mengaku usaha thriftnya bermula pada akhir November 2019. Waktu itu, tekadnya memutar uang Rp 200 ribu yang didapatnya selepas magang.

Gilang lantas memburu barang seken di Pasar Panorama. Uang Rp 200 ribu tadi ia belikan hody dan kaos. Barang yang sudah dibeli itu lalu ia cuci dan setrika kembali. Lalu difoto dan diposting di media sosial.

"Dengan modal foto dan promosi di media sosial, teman-teman ada yang menawar dan terjual. Dari situlah, saya mulai memburu barang-barang seken dan melakoni usaha," cerita Gilang saat hadir di Studio Pro 1 RRI Bengkulu dalam Dialog Lintas Bengkulu Pagi, Selasa (14/6).

Seiring dengan meningkatnya pembeli, Gilang pun akhirnya terus menambah koleksi. Jika semula hanya bermodal 200 ribu, enam bulan kemudian ia sudah belanja sampai Rp 2 juta. Lokasi hunting juga tak cuma di Pasar Panorama, tapi sudah sampai ke Medan dan Pontianak.

Kini koleksi Gilang tak cuma diminati kaula muda. Anak-anak hingga orang dewasa juga sudah menjadi pembeli dan pelanggannya. "Kalau sekarang banyak pembeli lokal. Kalau tahun 2000-an memang kebanyak dari luar Bengkulu karena barang saya unik," ujarnya.

Gilang mengatakan, promosi barang second sendiri terus dilakukan melalui media sosial, terutama Instagram. Untuk harga, ia mematok harga pasar untuk barang standar. Sementara untuk jenis barang kolektor dan historikal atau bernilai sejarah, ia pasang harga tertentu.

Kualitas dan Pengetahuan

Tak jauh beda dengan pengalaman Gilang, Arie Slyder seorang seller Brisha_Stuff di Rejang Lebong mengaku menggeluti usaha thrift dari modal koleksi pribadi. Ary mengaku penggemar sepatu dan kaos branded.

"Koleksi saya makin lama makin banyak dan menumpuk. Ditambah lagi kondisi pandemi, saya lalu coba tawarkan malah laku. Dari situ usaha terus berlanjut," ceritanya.

Awalnya Ary menyasar kolektor. Mereka terutama adalah kolega dalam aktivitas pekerjaan yang ia geluti, yakni jurnalis. Namun karena potensi pasar terbuka, ia pun mengembangkan usaha. Bermodal Rp 2 juta, Ary pun menambah stok barangnya.

Ary mengatakan, usaha yang dilakoninya kini bukan tanpa tantanga. Terutama soal persepsi masyarakat yang mengira barang thrift sama dengan image barang Batam atau pakaian bekas layak pakai yang sudah lebih dulu berkembang.

"Awal buka usaha, memang agak sulit meyakinkan publik bahwa barang seken ini tidak sama dengan barang yang biasa disebut oleh masyarakat dengan nama barang Batam. Memang butuh proses, setelah satu setengah tahun, pembeli baru bisa membedakan mana Batam mana seken branden," kisahnya.

Ary mengakui, harga barang second branded memang mengikuti perkembangan pasar. Namun untuk jenis barang yang original dan punya nilai sejarah, harga jual sudah termasuk biaya laundry dan perawatan sebelum dikemas siap pakai.

"Soal harga, sekitar 20-25 persen dibawah harga baru jika barangnya original. Sebagai seller juga mesti update pengetahuan dengan banyak referensi yang sudah banyak dan bisa googling," ujarnya. 

Selain persaingan harga, kata Ary, bisnis ini juga perlu ditopang dengan pengetahuan tentang mutu dan kualitas barang, ori tidaknya barang, dan bagaimana merawatnya agar awet.

"Saya juga cenderung membeli langsung koleksi saya supaya bisa memastikan kualitasnya. Sementara untuk pemasaran saya juga lakukan secara online di media sosial," kata Ary.

Baik Gilang maupun Ary berharap usaha thrift yang mereka lakoni bisa terus berkembang. Selain bisa menopang ekonomi keluarga, mereka juga ingin usaha ini membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar