Senator Riri : Laut Bengkulu Berpotensi Topang Ketahanan Pangan

KBRN, Bengkul : Dengan garis pantai sepanjang 525 kilometer, Provinsi Bengkulu merupakan daerah dengan sumber daya laut yang besar, namun belum mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat karena belum dikelolanya potensi kemaritiman secara maksimal.

"Laut Bengkulu bisa menopang ketahanan pangan selama penangkapan ikan dilakukan secara terukur dan profesional. Saya optimis hal ini bisa diwujudkan oleh pemerintah daerah," kata Anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Hj Riri Damayanti John Latief, Selasa (7/12/2021).

Meski telah sering dikampanyekan, Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini melanjutkan, secara nyata program-program yang dilaksanakan di sektor kelautan dan perikanan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan nelayan dan kemajuan daerah.

"Saya tidak tahu persis secara objektif dimana letak kekurangannya, tapi kesimpulan sementara yang bisa saya ambil adalah strategi pembangunan di sektor kelautan dan perikanan ini masih lemah, baik dari hulu hingga ke hilir. Saya persidangan saya akan minta kepada Kementerian KKP untuk mengakomodir usulan-usulan Bengkulu," ujar Riri.

Senator Riri menekankan, pembangunan di sektor kelautan dan perikanan membutuhkan sarana dan prasarana yang jumlahnya tidak lagi mampu ditanggung melalui APBD Provinsi Bengkulu yang kecil.

"Bengkulu butuh kapal-kapal besar, teknologi-teknologi canggih, butuh peralatan yang lebih baik dan lengkap dari apa yang dimiliki oleh nelayan saat ini. Apalagi nelayan Bengkulu ini harus menghadapi ombak Samudera Hindia yang terkenal galak," ungkap Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini.

Perempuan berhijab yang digelari Masyarakat Adat Pematang Tigo sebagai Anak Suku Adat Tiang Empat ini mengakui mengelola sektor kelautan dan perikanan bukan perkara yang mudah untuk dilakukan oleh pemerintah daerah.

"Target penangkapan ikan harus besar tapi harus tetap memperhatikan kelestarian ekosistem dan keberlanjutan alam. Pola penangkapan ikan tidak boleh asal-asalan, harus terukur dan benar-benar memperhatikan keseimbangan alam," demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Data diperoleh, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bengkulu mencatat produksi ikan budi daya air tawar di Bengkulu merosot dibanding tahun sebelumnya. Pada 2019 mencapai 122,79 ton sedangkan hingga September 2020 jumlahnya hanya 4 ton lebih.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar